Sudah seminggu aku tinggal bersama para kurcaci, aku terlalu bahagia
bersama mereka sampai aku lupa dengan tujuanku datang ke darat ini.
Wah.. aku harus segera memulai lagi perjalananku tapi kemana aku harus
pergi? Aku sudah kehilangan petaku serta semua barang-barangku. Apa yang
harus kulakukan selanjutnya? Aku ingin segera bertemu dengan keluarga
tiriku. Aku terus berpikir sambil berjalan menyusuri hutan buah-buahan.
Aku
terlalu sibuk dengan pikiranku sehingga aku tidak memperhatikan
langkahku. Tanpa sengaja aku menubruk seseorang dan membuatnya
menjatuhkan keranjangnya yang penuh buah. Aduh! aku benar-benar ceroboh,
segera aku minta maaf dan membantunya memunguti buah-buahnya yang
berserakan. Kemudian aku mengembalikan keranjang buah itu pada
pemiliknya yang sejak tadi membiarkanku memungut buah itu sendirian.
Astagaa!!
Aku terlonjak saat melihat wajah pemilik buah itu. Dia..dia terlihat
seperti mahluk yang sangat menyeramkan! Aku jadi teringat dengan nenek
di rumah coklat itu dan aku jadi sangat ketakutan. Orang itu juga
tampaknya tidak ramah, sepertinya dia kesal melihat ekspresiku barusan.
Dia segera merebut keranjang buah di tanganku dan pergi berlalu tanpa
mengucapkan apa-apa. Sepertinya aku sudah membuatnya tersinggung...
Beberapa hari kemudian aku bertemu lagi dengan orang berwajah menyeramkan itu. Kali ini dia datang ke rumah kurcaci membawa sekeranjang apel besar yang berwarna merah mengilat. Aku tergiur melihat apel-apelnya itu, oleh karena itu ketika dia menyodorkan salah satu apel yang paling besar dan paling mengilat, langsung kuterima dan kumakan tanpa berpikir panjang lagi. Setelah apel besar itu habis aku masih mau beberapa apel lagi dan dia dengan baiknya menyerahkan sekeranjang apel itu untukku. Aku tidak menyadari akal bulus orang tersebut. Baru setelah apel-apelnya habis kumakan, dia menyerahkan selembar tagihan untuk membayar apel-apel itu. Harga apel-apel itu mahal sekali.
Aku benar-benar terkejut dan panik karena tidak punya uang untuk membayar tagihannya tapi tak mungkin juga aku meminjam uang dari para kurcaci karena mereka sendiri sedang kesulitan. Tak ada jalan lain, aku pun menjatuhkan diriku ke lantai, pura-pura pingsan. Sepertinya berhasil dan orang menyeramkan itu langsung pergi. Fiuhhh!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar