Suhu di luar memang panas, terik dan gerah tapi di ruanganku dingin menusuk-nusuk. Akibatnya akupun jadi bolak balik ke kamar mandi. You know, udara dingin membuat ekskresi melalui kulit sangat sedikit akhirnya ginjal yang lebih banyak bekerja, dan jadilah seperti aku itu.
Biasanya aku selalu menggunakan toilet di sebelah lift, tepatnya di gedung tengah, meskipun di gedung sebelah kanan juga ada satu buah kamar mandi. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan toilet itu (toilet safety kalo kata oom pasca dulu). Tapi kali ini berbeda, berhubung sekarang adalah jadwal untuk sholat jadi toilet yang di gedung tengah dipakai untuk ber-wudhu, maka akupun terpaksa ke toilet gedung kanan yang memang lebih dekat ke ruanganku.
Begitu berada di dalam toilet seperti biasa pintu dikunci lalu nyalakan keran air. Pas menyalakan air itulah aku melihat ada sekelebat bayangan kecil yang kucluk-kucluk-kucluk merayap masuk ke balik ember..
Tanpa melihat pun aku sudah yakin itu adalah mahluk jelek, berwarna coklat kehitaman, memiliki sepasang antena, dengan corak seperti mata raksasa di kepalanya dan memiliki kaki-kaki yang berduri yang terasa mengerikan saat menyentuh kulit kita. (hiiiiiiiiyyy!! menyiksa diri sendiri saat mendeskripsikannya, bulu kudukku sudah berdiri tegak lurus!!!) Aku segera mengambil segayung air dan mulai menyiramkannya ke arah mahluk itu. Segayung, dua gayung, tiga gayung.. akhirnya aku mengangkat embernya dan menyiramkan air ke arah kec*a yang sepertinya sakti itu. :'(
Tapi kec*anya gak hanyut juga sodara-sodara!!!
Gak mau berlama-lama bertarung dengan kec*a itu akhirnya aku mengalah dan meninggalkan toilet, pindah ke toilet yang ada di gedung tengah. Hiks! Sudah kuduga toilet di gedung kanan memang angkerrrr!!!
Rabu, 28 September 2011
Senin, 26 September 2011
Aneh!!
Suatu siang yang tenang, sendirian ngetik di ruangan, yang lain menghilang entah kemana.
Cetak-cetik-cetak-cetik...
Lagi serius-seriusnya ngetik undangan, lewatlah pegawai paling usil se-Kepegawaian, Pa'Jo namanya.
Pa'Jo : Hoeii! Kristin! Ngapain lu sendirian di ruangan? Sepi amat lagi nih ruangan, yang lain pada kemana?
Dengan suara cempreng tapi membahana berhasil mengagetkanku dan membuyarkan susunan kalimat yang akan kuketikkan. Sepertinya orang-orang bernama Jo ditakdirkan untuk memiliki suara cempreng nan membahana yang mengganggu pendengaran.
Sudah terlanjur hilang konsentrasi sekalian kuladeni keusilan Pa'Jo, masih dengan tampang serius yang sama ditambah ekspresi heran, kupandangi sekelilingku lalu kembali melihat Pa'Jo yang tadi mengikuti arah pandangku.
Aku : Sepi apanya, Pak? Rame begini..! Masa Bapak gak liat??
Pa'Jo terbelalak dan kembali mengamati seisi ruangan.
Pa'Jo : Ah! Iya dah!!
Pa'Jo segera kabur dari depan ruanganku, ntah karena takut diganggu "teman-teman seruangan"-ku atau takut tertular kegilaanku.
"Dasar, luu!!!" terdengar teriakan Pa'Jo dari kejauhan.
* * *
Suatu sore, masih di ruangan yang sama, kali ini tinggal aku berdua dengan Emak. Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba Emak membuka sesi curcol.
Emak : Mba Kristin dari jurusan Psikologi kan, ya?
Aku : Iya, Bu. Ada apa, Bu? (jangan-jangan si Emak udah mulai menyadari keanehan pada diriku)
Emak : Hmmm, saya juga punya tuh, keponakan yang dari psikologi tapi dia sudah melanjut ke S2.
Aku : Oooh... (Fhiuh! ternyata bukan..)
Emak : Keponakan saya itu, ya, dia gak seperti anak gadis pada umumnya, sekarang dia sudah lebih dari 4 tahun kuliah S2, tapi gak selesai-selesai, malah dia ngotot minta berhenti, padahal, ya, dia itu tinggal menyusun thesis... Kenapa ya?
Itu sih, malas namanya Buk!!
Aku : Mungkin karena dia udah punya kerjaan kali, Bu. kan orang yang udah kerja, merasa udah cape kalo sambil kuliah. (Sotoy nih ceritanya...)
Emak : Lho, malah dia juga gak mau nyari kerja, kok! Benar ya? Kata orang-orang, kalo mahasiswa psikologi itu punya jalan pikiran yang berbeda dari orang kebanyakan. (Eomeo!! Emak menggunakan bahasa yang halus untuk mengungkapkan kata "aneh" itu.)
Aku : Ahahahaha!! Masa' sih, Bu?! Apa saya terlihat BEGITU? (berusaha se-normal mungkin)
Emak : Nggg... (sepertinya Emak gak tega menjawab tapi takut berbohong juga)
Aku : ....................... Iya, sih Bu. Bahkan dosen saya juga bilang kalo orang yang kuliah di psikologi itu kebanyakan karena berobat jalan. Ya, mungkin karena ilmu yang didapat di psikologi membuat kita bisa berpikir dari sudut pandang yang berbeda dan sebagian bahkan bisa menghargai keunikan dirinya, sampe-sampe gak terlalu perduli sama tanggapan orang lain.. (mencari-cari alasan untuk pembenaran karena si Emak sudah menyadari dan hampir meng-iya-kan kalo aku aneh.)
Emak : Ooohh!! (tiba-tiba mendapat pencerahan) Ehehehehehh... Iya, sih, kayaknya Mba Kristin juga..
Naaahh, kan!! Aku dianggap aneh, kaann!!!
Cetak-cetik-cetak-cetik...
Lagi serius-seriusnya ngetik undangan, lewatlah pegawai paling usil se-Kepegawaian, Pa'Jo namanya.
Pa'Jo : Hoeii! Kristin! Ngapain lu sendirian di ruangan? Sepi amat lagi nih ruangan, yang lain pada kemana?
Dengan suara cempreng tapi membahana berhasil mengagetkanku dan membuyarkan susunan kalimat yang akan kuketikkan. Sepertinya orang-orang bernama Jo ditakdirkan untuk memiliki suara cempreng nan membahana yang mengganggu pendengaran.
Sudah terlanjur hilang konsentrasi sekalian kuladeni keusilan Pa'Jo, masih dengan tampang serius yang sama ditambah ekspresi heran, kupandangi sekelilingku lalu kembali melihat Pa'Jo yang tadi mengikuti arah pandangku.
Aku : Sepi apanya, Pak? Rame begini..! Masa Bapak gak liat??
Pa'Jo terbelalak dan kembali mengamati seisi ruangan.
Pa'Jo : Ah! Iya dah!!
Pa'Jo segera kabur dari depan ruanganku, ntah karena takut diganggu "teman-teman seruangan"-ku atau takut tertular kegilaanku.
"Dasar, luu!!!" terdengar teriakan Pa'Jo dari kejauhan.
* * *
Suatu sore, masih di ruangan yang sama, kali ini tinggal aku berdua dengan Emak. Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba Emak membuka sesi curcol.
Emak : Mba Kristin dari jurusan Psikologi kan, ya?
Aku : Iya, Bu. Ada apa, Bu? (jangan-jangan si Emak udah mulai menyadari keanehan pada diriku)
Emak : Hmmm, saya juga punya tuh, keponakan yang dari psikologi tapi dia sudah melanjut ke S2.
Aku : Oooh... (Fhiuh! ternyata bukan..)
Emak : Keponakan saya itu, ya, dia gak seperti anak gadis pada umumnya, sekarang dia sudah lebih dari 4 tahun kuliah S2, tapi gak selesai-selesai, malah dia ngotot minta berhenti, padahal, ya, dia itu tinggal menyusun thesis... Kenapa ya?
Itu sih, malas namanya Buk!!
Aku : Mungkin karena dia udah punya kerjaan kali, Bu. kan orang yang udah kerja, merasa udah cape kalo sambil kuliah. (Sotoy nih ceritanya...)
Emak : Lho, malah dia juga gak mau nyari kerja, kok! Benar ya? Kata orang-orang, kalo mahasiswa psikologi itu punya jalan pikiran yang berbeda dari orang kebanyakan. (Eomeo!! Emak menggunakan bahasa yang halus untuk mengungkapkan kata "aneh" itu.)
Aku : Ahahahaha!! Masa' sih, Bu?! Apa saya terlihat BEGITU? (berusaha se-normal mungkin)
Emak : Nggg... (sepertinya Emak gak tega menjawab tapi takut berbohong juga)
Aku : ....................... Iya, sih Bu. Bahkan dosen saya juga bilang kalo orang yang kuliah di psikologi itu kebanyakan karena berobat jalan. Ya, mungkin karena ilmu yang didapat di psikologi membuat kita bisa berpikir dari sudut pandang yang berbeda dan sebagian bahkan bisa menghargai keunikan dirinya, sampe-sampe gak terlalu perduli sama tanggapan orang lain.. (mencari-cari alasan untuk pembenaran karena si Emak sudah menyadari dan hampir meng-iya-kan kalo aku aneh.)
Emak : Ooohh!! (tiba-tiba mendapat pencerahan) Ehehehehehh... Iya, sih, kayaknya Mba Kristin juga..
Naaahh, kan!! Aku dianggap aneh, kaann!!!
Kamis, 22 September 2011
Evaluasi oh Evaluasi....
Pak Bos : "Menurut saya ini dimulai dari atas, untuk mencegah agar jabatan yang lebih rendah tidak mendapat kelas yang lebih tinggi dari jabatan di atasnya"
Emak : "Saya setuju, Pak, menurut saya juga seperti itu.."
Aku : "Tapi Pak, ini dari sistem penilaiannya sepertinya kita harus mulai dari bawah karena di sini ada pertanyaan tentang kelas jabatan fungsional/staf yang diselia oleh jabatan tersebut, berarti kita harus tau dulu kelas jabatan yang lebih rendah, yang berarti juga kita harus mengevaluasi dari jabatan yang paling rendah."
Pak Bos : "Kalo perkiraan saya, untuk pertanyaan itu cukup kita buat saja range kelas untuk setiap jabatan yang ada di eselon kita ini.."
Aku : Esmosi tingkat tinggi, berusaha menahan diri untuk tidak melempar buku pedoman evaluasi jabatan dan memporak-porandakan seisi ruangan.
(Haiyaaaaaaaahh!!! Kalo gitu sih kita gak usah bikin evaluasi jabatan, Paaaaaaaaaaaaaakk!!!)
Emak : "Saya setuju, Pak, menurut saya juga seperti itu.."
Aku : "Tapi Pak, ini dari sistem penilaiannya sepertinya kita harus mulai dari bawah karena di sini ada pertanyaan tentang kelas jabatan fungsional/staf yang diselia oleh jabatan tersebut, berarti kita harus tau dulu kelas jabatan yang lebih rendah, yang berarti juga kita harus mengevaluasi dari jabatan yang paling rendah."
Pak Bos : "Kalo perkiraan saya, untuk pertanyaan itu cukup kita buat saja range kelas untuk setiap jabatan yang ada di eselon kita ini.."
Aku : Esmosi tingkat tinggi, berusaha menahan diri untuk tidak melempar buku pedoman evaluasi jabatan dan memporak-porandakan seisi ruangan.
(Haiyaaaaaaaahh!!! Kalo gitu sih kita gak usah bikin evaluasi jabatan, Paaaaaaaaaaaaaakk!!!)
Ngintiiip!!!
Emakku sering dimasukkan dalam daftar Kasub bertangan besi, berhati dingin nan perfeksionis.
Sering beliau mengembalikan nota dinas, surat-surat dan SK yang menurutnya tidak layak untuk diajukan ke Pak Bos. Kalo cuma sekedar mengembalikan sih tidak mengapa, tapi kalo sampai berkali-kali dengan kesalahan yang berganti-ganti, rasanya seolah "banyak maunya". Belum lagi beliau sering memasang ekspresi "Do not disturb!" ato "Don't talk to me".
Seorang rekan bahkan sempat kesal luar biasa pada sikap beliau itu, bahkan memasang sikap penolakan dan menunjukkan ketidaksukaan secara jelas pada beliau. Ya, waktu mendengarkan curahan uneg-uneg rekanku , aku juga sampe turut sebal. Tapi suatu hari waktu aku mendengar sendiri curahan hati Emak mengenai kondisinya, aku bisa memakluminya.
Dan suatu hari di minggu-minggu ini...
"Bu, nanti untuk acara sosialisasi kita pake apa untuk presentasinya?" aku bertanya dengan maksud memberi tahu bahwa di ruanganku tidak ada laptop yang bisa digunakan, karena memang ruangan kami tidak mendapat jatah laptop pada saat pengadaan tahun lalu.
"Lho? Di sini ga ada laptop ya? Waduh! Kenapa ga bilang dari tadi? Mana Pak "A" udah pergi lagi." Emak menjawab setengah panik setengah kesal.
"Iya, Bu.. Di ruangan ini ga tersedia laptop. Pas dinas luar ke Sukamandi bulan lalu saja kita bawanya komputer lengkap dengan PC dan printernya... Kasian ya, Bu.." berharap si Emak kasihan dan tergerak hatinya untuk menurunkan insruksi untuk pengadaan laptop di ruangan.
"Ah! Ssst..! Sebentar saya lagi menelpon Pak "A" untuk nanyain kunci lemari, kita pake laptop ruangan seberang aja."
Sebenarnya Emak itu adalah Emaknya orang-orang di ruangan seberang, tapi berhubung Bapak ruanganku sudah pindah ke instansi lain, untuk sementara Emaklah yang menggantikannya. Ruanganku pun serasa jadi anak angkat.. Hiks!
"Hallo, Pak A, kunci lemari ditaruh dimana ya? Saya mau memakai laptop untuk acara sosialisasi nanti siang. Dimana? Di atas PC.., di dekat CD? PC punya Pak A, kan ya? Oke, sebentar..." si Emak segera menuju ruangan seberang dan aku mengekori dari belakang dengan maksud membantunya untuk membawakan laptop.
"Di atas PC..." Emak mengulangi penjelasan Pak A sambil mengangkat tumpukan buku di atas PC tapi tidak menemukan apapun kecuali sekeping CD.
"Hmmmm? Di antara CD..." Emak menggeser sesuatu yang sepertinya adalah penutup laci yang menjadi bagian dari PC tersebut dan...
"Ah! Ini dia kuncinya!!" Emak berhasil menemukan kunci yang dimaksud.
"Hooo... ternyata ditaruh di situ toh.." kataku tanpa sadar setelah Emak mengambil kuncinya.
Namun tak disangka Emak malah berbalik menatap tajam padaku, membuatku kaget dan sedikit ketar-ketir.
"Iiiihhh!!! Ngintiiipp!!!" seru Emak dengan ekspresi "Gotcha!".
Dan aku sukses terdiam, terkejut, terlempar sampai ke planet Pluto (eh, bukan planet lagi sih...).
Sering beliau mengembalikan nota dinas, surat-surat dan SK yang menurutnya tidak layak untuk diajukan ke Pak Bos. Kalo cuma sekedar mengembalikan sih tidak mengapa, tapi kalo sampai berkali-kali dengan kesalahan yang berganti-ganti, rasanya seolah "banyak maunya". Belum lagi beliau sering memasang ekspresi "Do not disturb!" ato "Don't talk to me".
Seorang rekan bahkan sempat kesal luar biasa pada sikap beliau itu, bahkan memasang sikap penolakan dan menunjukkan ketidaksukaan secara jelas pada beliau. Ya, waktu mendengarkan curahan uneg-uneg rekanku , aku juga sampe turut sebal. Tapi suatu hari waktu aku mendengar sendiri curahan hati Emak mengenai kondisinya, aku bisa memakluminya.
Dan suatu hari di minggu-minggu ini...
"Bu, nanti untuk acara sosialisasi kita pake apa untuk presentasinya?" aku bertanya dengan maksud memberi tahu bahwa di ruanganku tidak ada laptop yang bisa digunakan, karena memang ruangan kami tidak mendapat jatah laptop pada saat pengadaan tahun lalu.
"Lho? Di sini ga ada laptop ya? Waduh! Kenapa ga bilang dari tadi? Mana Pak "A" udah pergi lagi." Emak menjawab setengah panik setengah kesal.
"Iya, Bu.. Di ruangan ini ga tersedia laptop. Pas dinas luar ke Sukamandi bulan lalu saja kita bawanya komputer lengkap dengan PC dan printernya... Kasian ya, Bu.." berharap si Emak kasihan dan tergerak hatinya untuk menurunkan insruksi untuk pengadaan laptop di ruangan.
"Ah! Ssst..! Sebentar saya lagi menelpon Pak "A" untuk nanyain kunci lemari, kita pake laptop ruangan seberang aja."
Sebenarnya Emak itu adalah Emaknya orang-orang di ruangan seberang, tapi berhubung Bapak ruanganku sudah pindah ke instansi lain, untuk sementara Emaklah yang menggantikannya. Ruanganku pun serasa jadi anak angkat.. Hiks!
"Hallo, Pak A, kunci lemari ditaruh dimana ya? Saya mau memakai laptop untuk acara sosialisasi nanti siang. Dimana? Di atas PC.., di dekat CD? PC punya Pak A, kan ya? Oke, sebentar..." si Emak segera menuju ruangan seberang dan aku mengekori dari belakang dengan maksud membantunya untuk membawakan laptop.
"Di atas PC..." Emak mengulangi penjelasan Pak A sambil mengangkat tumpukan buku di atas PC tapi tidak menemukan apapun kecuali sekeping CD.
"Hmmmm? Di antara CD..." Emak menggeser sesuatu yang sepertinya adalah penutup laci yang menjadi bagian dari PC tersebut dan...
"Ah! Ini dia kuncinya!!" Emak berhasil menemukan kunci yang dimaksud.
"Hooo... ternyata ditaruh di situ toh.." kataku tanpa sadar setelah Emak mengambil kuncinya.
Namun tak disangka Emak malah berbalik menatap tajam padaku, membuatku kaget dan sedikit ketar-ketir.
"Iiiihhh!!! Ngintiiipp!!!" seru Emak dengan ekspresi "Gotcha!".
Dan aku sukses terdiam, terkejut, terlempar sampai ke planet Pluto (eh, bukan planet lagi sih...).
Rabu, 21 September 2011
Menghadap yang di atas
Cetak-cetik, cetak-cetik...
Ceritanya lagi asik ngerjain SK mutasi salah seorang pegawai yang bertugas di Satker.
"Mba' Kristin...!" suara Emak yang baru aja kembali dari ruangan Pak Bos.
"Hadir, Bu..." masih terbawa suasana Prajab 2 bulan yang lalu, jadi setiap dipanggil serasa lagi diabsen gitu.
Bukannya melanjutkan instruksi, Emak malah kaget mendengar jawabanku barusan, beliau terdiam menatap heran padaku, tidak percaya dan merasa aneh dengan jawaban yang baru saja terlontar dari mulutku. Setelah mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali akhirnya dia kembali ke bumi.
"Ng... hahaha! Mba' Kristin ada-ada saja..!"
Gantian aku yang terbengong-bengong sekarang, mata plangak-plongok otak kosong..
"Ah! Saya jadi lupa!! Ini, Mba' Kristin tolong antarkan ke ruang Pak Sesba, ya.. Ini bahan untuk acara sosialisasi nanti siang. Tolong kasih ke Pak A (inisial), ya. Tolong cepat, ya, Mba.."
Akhirnya isntruksi turun juga.
"Baik, Bu.. Siap, laksanakan!" masih dengan pengaruh kuat suasana Prajab.
Tak ingin terbawa dalam suasana Prajab yang menaungiku, si Emak segera berlalu menuju mejanya di ruangan seberang.
Pak Sesba... nama yang kalo disebutkan bisa membuat sebagian orang ketar-ketir. Ruangannya ada di lantai 3 sana dan kalo ke sana harus berpakaian lengkap dan rapi, sandal jepit adalah hal yang tabu di sana jadi segera kupakai sepatuku, kurapikan pakaianku, dan menarik napas panjang serta tak lupa menghembuskannya kembali.
"Bu..." panggilku pada Ibu SY (masih tetap inisial) yang mejanya ada di depan pintu ruangan.
"Ya? Ada apa Mba Kristin?" Raut wajahnya berubah mengikuti raut wajahku yang seharusnya menyiratkan kecemasan.
"Ibu.." aku melambatkan ucapanku.
"Hmm.."
"Hiks... Saya pergi dulu sebentar, ya. Saya titip ruangan ya, Bu.."
"Mba' Kristin mau kemana?" sepertinya kecemasannya bertambah.
"Hiks..! Saya mau menghadap yang di atas dulu, Bu.."
Bu SY membeku di mejanya, bingung antara harus marah ato ketawa dan aku segera berlalu menuju ruangan Pak Sesba.
Ceritanya lagi asik ngerjain SK mutasi salah seorang pegawai yang bertugas di Satker.
"Mba' Kristin...!" suara Emak yang baru aja kembali dari ruangan Pak Bos.
"Hadir, Bu..." masih terbawa suasana Prajab 2 bulan yang lalu, jadi setiap dipanggil serasa lagi diabsen gitu.
Bukannya melanjutkan instruksi, Emak malah kaget mendengar jawabanku barusan, beliau terdiam menatap heran padaku, tidak percaya dan merasa aneh dengan jawaban yang baru saja terlontar dari mulutku. Setelah mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali akhirnya dia kembali ke bumi.
"Ng... hahaha! Mba' Kristin ada-ada saja..!"
Gantian aku yang terbengong-bengong sekarang, mata plangak-plongok otak kosong..
"Ah! Saya jadi lupa!! Ini, Mba' Kristin tolong antarkan ke ruang Pak Sesba, ya.. Ini bahan untuk acara sosialisasi nanti siang. Tolong kasih ke Pak A (inisial), ya. Tolong cepat, ya, Mba.."
Akhirnya isntruksi turun juga.
"Baik, Bu.. Siap, laksanakan!" masih dengan pengaruh kuat suasana Prajab.
Tak ingin terbawa dalam suasana Prajab yang menaungiku, si Emak segera berlalu menuju mejanya di ruangan seberang.
Pak Sesba... nama yang kalo disebutkan bisa membuat sebagian orang ketar-ketir. Ruangannya ada di lantai 3 sana dan kalo ke sana harus berpakaian lengkap dan rapi, sandal jepit adalah hal yang tabu di sana jadi segera kupakai sepatuku, kurapikan pakaianku, dan menarik napas panjang serta tak lupa menghembuskannya kembali.
"Bu..." panggilku pada Ibu SY (masih tetap inisial) yang mejanya ada di depan pintu ruangan.
"Ya? Ada apa Mba Kristin?" Raut wajahnya berubah mengikuti raut wajahku yang seharusnya menyiratkan kecemasan.
"Ibu.." aku melambatkan ucapanku.
"Hmm.."
"Hiks... Saya pergi dulu sebentar, ya. Saya titip ruangan ya, Bu.."
"Mba' Kristin mau kemana?" sepertinya kecemasannya bertambah.
"Hiks..! Saya mau menghadap yang di atas dulu, Bu.."
Bu SY membeku di mejanya, bingung antara harus marah ato ketawa dan aku segera berlalu menuju ruangan Pak Sesba.
Langganan:
Postingan (Atom)