Aku akan merindukan suasana hectic evajab itu, karena aku sudah terbiasa dengan load kerjanya yang luar biasa. Selama empat bulan terkurung seharian di dalam ruang kerja yang walaupun lumayan besar tapi aku hanya beraktivitas di dalam area 1x1. Berangkat gelap pulang pun lebih gelap lagi, hampir tidak pernah bertemu dengan matahari (tapi kok ga putih2 juga ya??). Hampir tidak pernah bergaul dengan teman-teman seangkatan (selingkuh dengan berkas katanya..). Berjam-jam berhadapan dengan komputer dan tumpukan lembar evaluasi yang berpuluh-puluh kali direvisi. Bolak-balik bahkan berkali-kali disandera di ruang rapat Biro Kepegawaian (untung ada staf2 dari Eselon I lain yang ikut disandera bareng yang untungnya lagi lucu-lucu dan cakep2.. hehehee... sisi paling kusukai dari evaluasi jabatan ini).
Pahlawan remunerasi, kata salah satu senior di kepegawaian. Huwah! Sayang sekali, aku kurang tertarik dengan konsep remunerasi itu, pak. Bagiku itu lebih mirip musibah dari pada keberuntungan. Hiks! (Aku sudah berjuang untuk sesuatu yang kuanggap musibah???). Yah, tapi bagi sebagian besar ini memang sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu, bayangkan mendapat gaji sampai hampir 3x lipat dari gaji yang sekarang!! Mereka hanya belum mengerti konsep remunerasi yang sebenarnya.. -_-"
Sekarang sudah di penghujung tahun anggaran, sudah menjelang Natal dan menjelang tahun baru. Tapi berkat evaluasi jabatan ini, aku belum merasakan hingar-bingar Natal, kesibukan menjelang akhir tahun yang biasa kurasakan di kota kelahiranku. Bahkan di akhir evaluasi jabatan ini aku gak bisa merasakan kesenangan dan kelegaan. Hiks... Mak, maaf ya, aku ga bisa pulang Natal tahun ini.. Harapan terbesarku sekarang cuma bisa melewati malam Natal tanpa evaluasi jabatan..
Evaluasi jabatan, see you next year.
Jumat, 16 Desember 2011
Kamis, 27 Oktober 2011
ALL ABOUT JOB EVALUATION IS....
"Mba Kris, tolong buatkan bahan tayang untuk rapat evaluasi jabatan besok ya.."
"Mba Kris, tolong siapkan semua dokumen yang perlu dibawa untuk rapat ke Bandung besok ya..."
"Mba Kris, ini rekap evaluasi jabatannya masih salah, tolong diperbaiki."
"Mba Kris, nanti ikut rapat dengan saya ya.."
"Mba Kris, undangan rapat untuk satker udah dibuat belum? Udah diprint? Udah di-fax ga? Udah konfirm ke satker? Ruangan untuk rapat udah disiapkan? Makan siang dan snack untuk coffee breaknya udah dipesan?"
"Mba Kris, pastikan rekapnya ga salah lagi, harus sesuai dengan jumlah pegawai per Juli 2011 ya.."
"Mba Kris, ini kenapa belum selesai juga rekap per Eselon II nya? Peta Jabatannya kok belum terkumpul semua?"
"Mba Kris, untuk informasi faktor evaluasi jabatan yang masih belum sesuai tolong diperbaiki aja ya, kalo nunggu dari Satker bisa lama..."
"Mba Kris, ini tabel rekapnya masih salah, tulisannya ga usah dibold, tulisannya jangan terpotong-potong... Perbaiki lagi.."
"Mba Kris, nanti jangan pulang dulu, kita selesaikan dulu laporan evaluasi jabatan ini..."
"Mba Kris, jangan pulang sebelum rapat selesai ya..."
"Mba Kris, tolong buatkan contoh evaluasi jabatan fungsional umum, tertentu dan struktural masing-masing satu..."
"Mba Kris, hubungin Pak Ucok tanya soal format laporan evaluasi jabatan serta kelengkapan dokumen yang perlu disiapkan untuk ke MenPAN..."
"Mba Kris..."
"Mba Kris..."
"Mba Kris..."
........................................................
Haaaahh!! Tiba-tiba aku benci nama Kris..!!
"Mba Kris, tolong siapkan semua dokumen yang perlu dibawa untuk rapat ke Bandung besok ya..."
"Mba Kris, ini rekap evaluasi jabatannya masih salah, tolong diperbaiki."
"Mba Kris, nanti ikut rapat dengan saya ya.."
"Mba Kris, undangan rapat untuk satker udah dibuat belum? Udah diprint? Udah di-fax ga? Udah konfirm ke satker? Ruangan untuk rapat udah disiapkan? Makan siang dan snack untuk coffee breaknya udah dipesan?"
"Mba Kris, pastikan rekapnya ga salah lagi, harus sesuai dengan jumlah pegawai per Juli 2011 ya.."
"Mba Kris, ini kenapa belum selesai juga rekap per Eselon II nya? Peta Jabatannya kok belum terkumpul semua?"
"Mba Kris, untuk informasi faktor evaluasi jabatan yang masih belum sesuai tolong diperbaiki aja ya, kalo nunggu dari Satker bisa lama..."
"Mba Kris, ini tabel rekapnya masih salah, tulisannya ga usah dibold, tulisannya jangan terpotong-potong... Perbaiki lagi.."
"Mba Kris, nanti jangan pulang dulu, kita selesaikan dulu laporan evaluasi jabatan ini..."
"Mba Kris, jangan pulang sebelum rapat selesai ya..."
"Mba Kris, tolong buatkan contoh evaluasi jabatan fungsional umum, tertentu dan struktural masing-masing satu..."
"Mba Kris, hubungin Pak Ucok tanya soal format laporan evaluasi jabatan serta kelengkapan dokumen yang perlu disiapkan untuk ke MenPAN..."
"Mba Kris..."
"Mba Kris..."
"Mba Kris..."
........................................................
Haaaahh!! Tiba-tiba aku benci nama Kris..!!
Jumat, 14 Oktober 2011
LAMPIRAN
Badan Litbang Pertanian sedang dilanda kehebohan akibat Evaluasi Jabatan (teteeuuup!!). Mulai dari Eselon II sampe kacung, panik dan sibuk, yang pasti bukan karena ngerjain evaluasi jabatanlah.. karena udah ada kacung2 sepertiku dan Bu SY yang bertugas untuk itu, termasuk kacung yang satu ini...
Mas'Nic : Kreis! Nih, gua dah ngerjain evaluasi jabatan yang di sekret... gua send ke flesdisk lu ya...
Aku : Okeh, mas... tolong ya, send sendiri, aku lagi buat surat mutasi nih. dari tadi salah mulu!!! Oya!
ntar sekalian print-in yang rekap nya yakk.. thank you!
Trekeetektektekteeekkkk... suara printer yang berisik pun terdengar beberapa saat kemudian.
Mas'Nic : Ah! Nih dia... Walah! kecil banget nih tulisannya Kreis..! Gimana dong??
Aku : Mo gimana lagi, emang udah segitu hasil nya.. lagian masih kebaca kok...
Mas'Nic : Iya, Elu bisa baca! Pak big boss lu bisa baca gak tuh??
Aku : Gampaaaaaaangg!! ntar di surat pengantarnya aku buatin lampiran deeehh..
Mas'Nic : Lampiran???
Aku : Iyaa... "Lampiran : Satu (1) buah lup"!
Mas'Nic : Kreis! Nih, gua dah ngerjain evaluasi jabatan yang di sekret... gua send ke flesdisk lu ya...
Aku : Okeh, mas... tolong ya, send sendiri, aku lagi buat surat mutasi nih. dari tadi salah mulu!!! Oya!
ntar sekalian print-in yang rekap nya yakk.. thank you!
Trekeetektektekteeekkkk... suara printer yang berisik pun terdengar beberapa saat kemudian.
Mas'Nic : Ah! Nih dia... Walah! kecil banget nih tulisannya Kreis..! Gimana dong??
Aku : Mo gimana lagi, emang udah segitu hasil nya.. lagian masih kebaca kok...
Mas'Nic : Iya, Elu bisa baca! Pak big boss lu bisa baca gak tuh??
Aku : Gampaaaaaaangg!! ntar di surat pengantarnya aku buatin lampiran deeehh..
Mas'Nic : Lampiran???
Aku : Iyaa... "Lampiran : Satu (1) buah lup"!
Rabu, 05 Oktober 2011
Prof meninggal....
Di suatu pagi yang tenang, berkumpullah sekelompok staf Kepegawaian di ruang TUKM, membahas sesuatu tentang pengobatan herbal.
Bu SY : Iya, saya lebih senang pake obat-obatan herbal, lebih alami dan bebas zat kimia..
Pak Tis : Iya, tp sekarang susah nyari obat herbal yang bagus, sekalinya ada, ngantrinya lamaaaaaaa!
Bu SY : Bener tuh pak, apalagi sejak prof Hembing meninggal. Padahal dia ahlinya ramuan herbal itu.. sayang ya..
Aku : He-eh... saya masih inget tuh acaranya tiap sabtu pagi di tivi..
Pak Tis : Ha? Prof Hembing udah meninggal?
Pak'Ju yang diam dari awal pun kaget dan ikut nimbrung,
Pak'Ju : Prof Hembing beneran meninggal, Bu?
Bu SY : Iyaa... Bapak baru tahu?
Pak'Ju : Wah!! Iya, saya baru tahu itu...
Aku : Waduh!! Bapak darimana aja?
Pak' Ju : Iya, nih, saya ketinggalan berita doong.. Eh, Prof Hembing yang kayak benc*ng itu kan?
Aku : (Shock! Mengingat-ingat bagian mana dari Prof Hembing yang membuatnya mirip benc*ng.. yang pasti bukan rambutnya yg jejingkrakan itu!)
Pak'Tis : (menaikkan sebelah alis, mulut menganga....)
Bu SY : Bencong? Maksud Bapak dr Boyke???
Pak'Ju : Iya..! Salah ya???
*Koaaaaakkk-koaaaaaakk-koaaaaaaaakk-koaaaaaakkk*
Bu SY, Pak'Tis dan aku cuma bisa melongo...
*suara burung gagak
Bu SY : Iya, saya lebih senang pake obat-obatan herbal, lebih alami dan bebas zat kimia..
Pak Tis : Iya, tp sekarang susah nyari obat herbal yang bagus, sekalinya ada, ngantrinya lamaaaaaaa!
Bu SY : Bener tuh pak, apalagi sejak prof Hembing meninggal. Padahal dia ahlinya ramuan herbal itu.. sayang ya..
Aku : He-eh... saya masih inget tuh acaranya tiap sabtu pagi di tivi..
Pak Tis : Ha? Prof Hembing udah meninggal?
Pak'Ju yang diam dari awal pun kaget dan ikut nimbrung,
Pak'Ju : Prof Hembing beneran meninggal, Bu?
Bu SY : Iyaa... Bapak baru tahu?
Pak'Ju : Wah!! Iya, saya baru tahu itu...
Aku : Waduh!! Bapak darimana aja?
Pak' Ju : Iya, nih, saya ketinggalan berita doong.. Eh, Prof Hembing yang kayak benc*ng itu kan?
Aku : (Shock! Mengingat-ingat bagian mana dari Prof Hembing yang membuatnya mirip benc*ng.. yang pasti bukan rambutnya yg jejingkrakan itu!)
Pak'Tis : (menaikkan sebelah alis, mulut menganga....)
Bu SY : Bencong? Maksud Bapak dr Boyke???
Pak'Ju : Iya..! Salah ya???
*Koaaaaakkk-koaaaaaakk-koaaaaaaaakk-koaaaaaakkk*
Bu SY, Pak'Tis dan aku cuma bisa melongo...
*suara burung gagak
Rabu, 28 September 2011
Kecoaaaaaaaaaa!!!!
Suhu di luar memang panas, terik dan gerah tapi di ruanganku dingin menusuk-nusuk. Akibatnya akupun jadi bolak balik ke kamar mandi. You know, udara dingin membuat ekskresi melalui kulit sangat sedikit akhirnya ginjal yang lebih banyak bekerja, dan jadilah seperti aku itu.
Biasanya aku selalu menggunakan toilet di sebelah lift, tepatnya di gedung tengah, meskipun di gedung sebelah kanan juga ada satu buah kamar mandi. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan toilet itu (toilet safety kalo kata oom pasca dulu). Tapi kali ini berbeda, berhubung sekarang adalah jadwal untuk sholat jadi toilet yang di gedung tengah dipakai untuk ber-wudhu, maka akupun terpaksa ke toilet gedung kanan yang memang lebih dekat ke ruanganku.
Begitu berada di dalam toilet seperti biasa pintu dikunci lalu nyalakan keran air. Pas menyalakan air itulah aku melihat ada sekelebat bayangan kecil yang kucluk-kucluk-kucluk merayap masuk ke balik ember..
Tanpa melihat pun aku sudah yakin itu adalah mahluk jelek, berwarna coklat kehitaman, memiliki sepasang antena, dengan corak seperti mata raksasa di kepalanya dan memiliki kaki-kaki yang berduri yang terasa mengerikan saat menyentuh kulit kita. (hiiiiiiiiyyy!! menyiksa diri sendiri saat mendeskripsikannya, bulu kudukku sudah berdiri tegak lurus!!!) Aku segera mengambil segayung air dan mulai menyiramkannya ke arah mahluk itu. Segayung, dua gayung, tiga gayung.. akhirnya aku mengangkat embernya dan menyiramkan air ke arah kec*a yang sepertinya sakti itu. :'(
Tapi kec*anya gak hanyut juga sodara-sodara!!!
Gak mau berlama-lama bertarung dengan kec*a itu akhirnya aku mengalah dan meninggalkan toilet, pindah ke toilet yang ada di gedung tengah. Hiks! Sudah kuduga toilet di gedung kanan memang angkerrrr!!!
Biasanya aku selalu menggunakan toilet di sebelah lift, tepatnya di gedung tengah, meskipun di gedung sebelah kanan juga ada satu buah kamar mandi. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan toilet itu (toilet safety kalo kata oom pasca dulu). Tapi kali ini berbeda, berhubung sekarang adalah jadwal untuk sholat jadi toilet yang di gedung tengah dipakai untuk ber-wudhu, maka akupun terpaksa ke toilet gedung kanan yang memang lebih dekat ke ruanganku.
Begitu berada di dalam toilet seperti biasa pintu dikunci lalu nyalakan keran air. Pas menyalakan air itulah aku melihat ada sekelebat bayangan kecil yang kucluk-kucluk-kucluk merayap masuk ke balik ember..
Tanpa melihat pun aku sudah yakin itu adalah mahluk jelek, berwarna coklat kehitaman, memiliki sepasang antena, dengan corak seperti mata raksasa di kepalanya dan memiliki kaki-kaki yang berduri yang terasa mengerikan saat menyentuh kulit kita. (hiiiiiiiiyyy!! menyiksa diri sendiri saat mendeskripsikannya, bulu kudukku sudah berdiri tegak lurus!!!) Aku segera mengambil segayung air dan mulai menyiramkannya ke arah mahluk itu. Segayung, dua gayung, tiga gayung.. akhirnya aku mengangkat embernya dan menyiramkan air ke arah kec*a yang sepertinya sakti itu. :'(
Tapi kec*anya gak hanyut juga sodara-sodara!!!
Gak mau berlama-lama bertarung dengan kec*a itu akhirnya aku mengalah dan meninggalkan toilet, pindah ke toilet yang ada di gedung tengah. Hiks! Sudah kuduga toilet di gedung kanan memang angkerrrr!!!
Senin, 26 September 2011
Aneh!!
Suatu siang yang tenang, sendirian ngetik di ruangan, yang lain menghilang entah kemana.
Cetak-cetik-cetak-cetik...
Lagi serius-seriusnya ngetik undangan, lewatlah pegawai paling usil se-Kepegawaian, Pa'Jo namanya.
Pa'Jo : Hoeii! Kristin! Ngapain lu sendirian di ruangan? Sepi amat lagi nih ruangan, yang lain pada kemana?
Dengan suara cempreng tapi membahana berhasil mengagetkanku dan membuyarkan susunan kalimat yang akan kuketikkan. Sepertinya orang-orang bernama Jo ditakdirkan untuk memiliki suara cempreng nan membahana yang mengganggu pendengaran.
Sudah terlanjur hilang konsentrasi sekalian kuladeni keusilan Pa'Jo, masih dengan tampang serius yang sama ditambah ekspresi heran, kupandangi sekelilingku lalu kembali melihat Pa'Jo yang tadi mengikuti arah pandangku.
Aku : Sepi apanya, Pak? Rame begini..! Masa Bapak gak liat??
Pa'Jo terbelalak dan kembali mengamati seisi ruangan.
Pa'Jo : Ah! Iya dah!!
Pa'Jo segera kabur dari depan ruanganku, ntah karena takut diganggu "teman-teman seruangan"-ku atau takut tertular kegilaanku.
"Dasar, luu!!!" terdengar teriakan Pa'Jo dari kejauhan.
* * *
Suatu sore, masih di ruangan yang sama, kali ini tinggal aku berdua dengan Emak. Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba Emak membuka sesi curcol.
Emak : Mba Kristin dari jurusan Psikologi kan, ya?
Aku : Iya, Bu. Ada apa, Bu? (jangan-jangan si Emak udah mulai menyadari keanehan pada diriku)
Emak : Hmmm, saya juga punya tuh, keponakan yang dari psikologi tapi dia sudah melanjut ke S2.
Aku : Oooh... (Fhiuh! ternyata bukan..)
Emak : Keponakan saya itu, ya, dia gak seperti anak gadis pada umumnya, sekarang dia sudah lebih dari 4 tahun kuliah S2, tapi gak selesai-selesai, malah dia ngotot minta berhenti, padahal, ya, dia itu tinggal menyusun thesis... Kenapa ya?
Itu sih, malas namanya Buk!!
Aku : Mungkin karena dia udah punya kerjaan kali, Bu. kan orang yang udah kerja, merasa udah cape kalo sambil kuliah. (Sotoy nih ceritanya...)
Emak : Lho, malah dia juga gak mau nyari kerja, kok! Benar ya? Kata orang-orang, kalo mahasiswa psikologi itu punya jalan pikiran yang berbeda dari orang kebanyakan. (Eomeo!! Emak menggunakan bahasa yang halus untuk mengungkapkan kata "aneh" itu.)
Aku : Ahahahaha!! Masa' sih, Bu?! Apa saya terlihat BEGITU? (berusaha se-normal mungkin)
Emak : Nggg... (sepertinya Emak gak tega menjawab tapi takut berbohong juga)
Aku : ....................... Iya, sih Bu. Bahkan dosen saya juga bilang kalo orang yang kuliah di psikologi itu kebanyakan karena berobat jalan. Ya, mungkin karena ilmu yang didapat di psikologi membuat kita bisa berpikir dari sudut pandang yang berbeda dan sebagian bahkan bisa menghargai keunikan dirinya, sampe-sampe gak terlalu perduli sama tanggapan orang lain.. (mencari-cari alasan untuk pembenaran karena si Emak sudah menyadari dan hampir meng-iya-kan kalo aku aneh.)
Emak : Ooohh!! (tiba-tiba mendapat pencerahan) Ehehehehehh... Iya, sih, kayaknya Mba Kristin juga..
Naaahh, kan!! Aku dianggap aneh, kaann!!!
Cetak-cetik-cetak-cetik...
Lagi serius-seriusnya ngetik undangan, lewatlah pegawai paling usil se-Kepegawaian, Pa'Jo namanya.
Pa'Jo : Hoeii! Kristin! Ngapain lu sendirian di ruangan? Sepi amat lagi nih ruangan, yang lain pada kemana?
Dengan suara cempreng tapi membahana berhasil mengagetkanku dan membuyarkan susunan kalimat yang akan kuketikkan. Sepertinya orang-orang bernama Jo ditakdirkan untuk memiliki suara cempreng nan membahana yang mengganggu pendengaran.
Sudah terlanjur hilang konsentrasi sekalian kuladeni keusilan Pa'Jo, masih dengan tampang serius yang sama ditambah ekspresi heran, kupandangi sekelilingku lalu kembali melihat Pa'Jo yang tadi mengikuti arah pandangku.
Aku : Sepi apanya, Pak? Rame begini..! Masa Bapak gak liat??
Pa'Jo terbelalak dan kembali mengamati seisi ruangan.
Pa'Jo : Ah! Iya dah!!
Pa'Jo segera kabur dari depan ruanganku, ntah karena takut diganggu "teman-teman seruangan"-ku atau takut tertular kegilaanku.
"Dasar, luu!!!" terdengar teriakan Pa'Jo dari kejauhan.
* * *
Suatu sore, masih di ruangan yang sama, kali ini tinggal aku berdua dengan Emak. Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba Emak membuka sesi curcol.
Emak : Mba Kristin dari jurusan Psikologi kan, ya?
Aku : Iya, Bu. Ada apa, Bu? (jangan-jangan si Emak udah mulai menyadari keanehan pada diriku)
Emak : Hmmm, saya juga punya tuh, keponakan yang dari psikologi tapi dia sudah melanjut ke S2.
Aku : Oooh... (Fhiuh! ternyata bukan..)
Emak : Keponakan saya itu, ya, dia gak seperti anak gadis pada umumnya, sekarang dia sudah lebih dari 4 tahun kuliah S2, tapi gak selesai-selesai, malah dia ngotot minta berhenti, padahal, ya, dia itu tinggal menyusun thesis... Kenapa ya?
Itu sih, malas namanya Buk!!
Aku : Mungkin karena dia udah punya kerjaan kali, Bu. kan orang yang udah kerja, merasa udah cape kalo sambil kuliah. (Sotoy nih ceritanya...)
Emak : Lho, malah dia juga gak mau nyari kerja, kok! Benar ya? Kata orang-orang, kalo mahasiswa psikologi itu punya jalan pikiran yang berbeda dari orang kebanyakan. (Eomeo!! Emak menggunakan bahasa yang halus untuk mengungkapkan kata "aneh" itu.)
Aku : Ahahahaha!! Masa' sih, Bu?! Apa saya terlihat BEGITU? (berusaha se-normal mungkin)
Emak : Nggg... (sepertinya Emak gak tega menjawab tapi takut berbohong juga)
Aku : ....................... Iya, sih Bu. Bahkan dosen saya juga bilang kalo orang yang kuliah di psikologi itu kebanyakan karena berobat jalan. Ya, mungkin karena ilmu yang didapat di psikologi membuat kita bisa berpikir dari sudut pandang yang berbeda dan sebagian bahkan bisa menghargai keunikan dirinya, sampe-sampe gak terlalu perduli sama tanggapan orang lain.. (mencari-cari alasan untuk pembenaran karena si Emak sudah menyadari dan hampir meng-iya-kan kalo aku aneh.)
Emak : Ooohh!! (tiba-tiba mendapat pencerahan) Ehehehehehh... Iya, sih, kayaknya Mba Kristin juga..
Naaahh, kan!! Aku dianggap aneh, kaann!!!
Kamis, 22 September 2011
Evaluasi oh Evaluasi....
Pak Bos : "Menurut saya ini dimulai dari atas, untuk mencegah agar jabatan yang lebih rendah tidak mendapat kelas yang lebih tinggi dari jabatan di atasnya"
Emak : "Saya setuju, Pak, menurut saya juga seperti itu.."
Aku : "Tapi Pak, ini dari sistem penilaiannya sepertinya kita harus mulai dari bawah karena di sini ada pertanyaan tentang kelas jabatan fungsional/staf yang diselia oleh jabatan tersebut, berarti kita harus tau dulu kelas jabatan yang lebih rendah, yang berarti juga kita harus mengevaluasi dari jabatan yang paling rendah."
Pak Bos : "Kalo perkiraan saya, untuk pertanyaan itu cukup kita buat saja range kelas untuk setiap jabatan yang ada di eselon kita ini.."
Aku : Esmosi tingkat tinggi, berusaha menahan diri untuk tidak melempar buku pedoman evaluasi jabatan dan memporak-porandakan seisi ruangan.
(Haiyaaaaaaaahh!!! Kalo gitu sih kita gak usah bikin evaluasi jabatan, Paaaaaaaaaaaaaakk!!!)
Emak : "Saya setuju, Pak, menurut saya juga seperti itu.."
Aku : "Tapi Pak, ini dari sistem penilaiannya sepertinya kita harus mulai dari bawah karena di sini ada pertanyaan tentang kelas jabatan fungsional/staf yang diselia oleh jabatan tersebut, berarti kita harus tau dulu kelas jabatan yang lebih rendah, yang berarti juga kita harus mengevaluasi dari jabatan yang paling rendah."
Pak Bos : "Kalo perkiraan saya, untuk pertanyaan itu cukup kita buat saja range kelas untuk setiap jabatan yang ada di eselon kita ini.."
Aku : Esmosi tingkat tinggi, berusaha menahan diri untuk tidak melempar buku pedoman evaluasi jabatan dan memporak-porandakan seisi ruangan.
(Haiyaaaaaaaahh!!! Kalo gitu sih kita gak usah bikin evaluasi jabatan, Paaaaaaaaaaaaaakk!!!)
Ngintiiip!!!
Emakku sering dimasukkan dalam daftar Kasub bertangan besi, berhati dingin nan perfeksionis.
Sering beliau mengembalikan nota dinas, surat-surat dan SK yang menurutnya tidak layak untuk diajukan ke Pak Bos. Kalo cuma sekedar mengembalikan sih tidak mengapa, tapi kalo sampai berkali-kali dengan kesalahan yang berganti-ganti, rasanya seolah "banyak maunya". Belum lagi beliau sering memasang ekspresi "Do not disturb!" ato "Don't talk to me".
Seorang rekan bahkan sempat kesal luar biasa pada sikap beliau itu, bahkan memasang sikap penolakan dan menunjukkan ketidaksukaan secara jelas pada beliau. Ya, waktu mendengarkan curahan uneg-uneg rekanku , aku juga sampe turut sebal. Tapi suatu hari waktu aku mendengar sendiri curahan hati Emak mengenai kondisinya, aku bisa memakluminya.
Dan suatu hari di minggu-minggu ini...
"Bu, nanti untuk acara sosialisasi kita pake apa untuk presentasinya?" aku bertanya dengan maksud memberi tahu bahwa di ruanganku tidak ada laptop yang bisa digunakan, karena memang ruangan kami tidak mendapat jatah laptop pada saat pengadaan tahun lalu.
"Lho? Di sini ga ada laptop ya? Waduh! Kenapa ga bilang dari tadi? Mana Pak "A" udah pergi lagi." Emak menjawab setengah panik setengah kesal.
"Iya, Bu.. Di ruangan ini ga tersedia laptop. Pas dinas luar ke Sukamandi bulan lalu saja kita bawanya komputer lengkap dengan PC dan printernya... Kasian ya, Bu.." berharap si Emak kasihan dan tergerak hatinya untuk menurunkan insruksi untuk pengadaan laptop di ruangan.
"Ah! Ssst..! Sebentar saya lagi menelpon Pak "A" untuk nanyain kunci lemari, kita pake laptop ruangan seberang aja."
Sebenarnya Emak itu adalah Emaknya orang-orang di ruangan seberang, tapi berhubung Bapak ruanganku sudah pindah ke instansi lain, untuk sementara Emaklah yang menggantikannya. Ruanganku pun serasa jadi anak angkat.. Hiks!
"Hallo, Pak A, kunci lemari ditaruh dimana ya? Saya mau memakai laptop untuk acara sosialisasi nanti siang. Dimana? Di atas PC.., di dekat CD? PC punya Pak A, kan ya? Oke, sebentar..." si Emak segera menuju ruangan seberang dan aku mengekori dari belakang dengan maksud membantunya untuk membawakan laptop.
"Di atas PC..." Emak mengulangi penjelasan Pak A sambil mengangkat tumpukan buku di atas PC tapi tidak menemukan apapun kecuali sekeping CD.
"Hmmmm? Di antara CD..." Emak menggeser sesuatu yang sepertinya adalah penutup laci yang menjadi bagian dari PC tersebut dan...
"Ah! Ini dia kuncinya!!" Emak berhasil menemukan kunci yang dimaksud.
"Hooo... ternyata ditaruh di situ toh.." kataku tanpa sadar setelah Emak mengambil kuncinya.
Namun tak disangka Emak malah berbalik menatap tajam padaku, membuatku kaget dan sedikit ketar-ketir.
"Iiiihhh!!! Ngintiiipp!!!" seru Emak dengan ekspresi "Gotcha!".
Dan aku sukses terdiam, terkejut, terlempar sampai ke planet Pluto (eh, bukan planet lagi sih...).
Sering beliau mengembalikan nota dinas, surat-surat dan SK yang menurutnya tidak layak untuk diajukan ke Pak Bos. Kalo cuma sekedar mengembalikan sih tidak mengapa, tapi kalo sampai berkali-kali dengan kesalahan yang berganti-ganti, rasanya seolah "banyak maunya". Belum lagi beliau sering memasang ekspresi "Do not disturb!" ato "Don't talk to me".
Seorang rekan bahkan sempat kesal luar biasa pada sikap beliau itu, bahkan memasang sikap penolakan dan menunjukkan ketidaksukaan secara jelas pada beliau. Ya, waktu mendengarkan curahan uneg-uneg rekanku , aku juga sampe turut sebal. Tapi suatu hari waktu aku mendengar sendiri curahan hati Emak mengenai kondisinya, aku bisa memakluminya.
Dan suatu hari di minggu-minggu ini...
"Bu, nanti untuk acara sosialisasi kita pake apa untuk presentasinya?" aku bertanya dengan maksud memberi tahu bahwa di ruanganku tidak ada laptop yang bisa digunakan, karena memang ruangan kami tidak mendapat jatah laptop pada saat pengadaan tahun lalu.
"Lho? Di sini ga ada laptop ya? Waduh! Kenapa ga bilang dari tadi? Mana Pak "A" udah pergi lagi." Emak menjawab setengah panik setengah kesal.
"Iya, Bu.. Di ruangan ini ga tersedia laptop. Pas dinas luar ke Sukamandi bulan lalu saja kita bawanya komputer lengkap dengan PC dan printernya... Kasian ya, Bu.." berharap si Emak kasihan dan tergerak hatinya untuk menurunkan insruksi untuk pengadaan laptop di ruangan.
"Ah! Ssst..! Sebentar saya lagi menelpon Pak "A" untuk nanyain kunci lemari, kita pake laptop ruangan seberang aja."
Sebenarnya Emak itu adalah Emaknya orang-orang di ruangan seberang, tapi berhubung Bapak ruanganku sudah pindah ke instansi lain, untuk sementara Emaklah yang menggantikannya. Ruanganku pun serasa jadi anak angkat.. Hiks!
"Hallo, Pak A, kunci lemari ditaruh dimana ya? Saya mau memakai laptop untuk acara sosialisasi nanti siang. Dimana? Di atas PC.., di dekat CD? PC punya Pak A, kan ya? Oke, sebentar..." si Emak segera menuju ruangan seberang dan aku mengekori dari belakang dengan maksud membantunya untuk membawakan laptop.
"Di atas PC..." Emak mengulangi penjelasan Pak A sambil mengangkat tumpukan buku di atas PC tapi tidak menemukan apapun kecuali sekeping CD.
"Hmmmm? Di antara CD..." Emak menggeser sesuatu yang sepertinya adalah penutup laci yang menjadi bagian dari PC tersebut dan...
"Ah! Ini dia kuncinya!!" Emak berhasil menemukan kunci yang dimaksud.
"Hooo... ternyata ditaruh di situ toh.." kataku tanpa sadar setelah Emak mengambil kuncinya.
Namun tak disangka Emak malah berbalik menatap tajam padaku, membuatku kaget dan sedikit ketar-ketir.
"Iiiihhh!!! Ngintiiipp!!!" seru Emak dengan ekspresi "Gotcha!".
Dan aku sukses terdiam, terkejut, terlempar sampai ke planet Pluto (eh, bukan planet lagi sih...).
Rabu, 21 September 2011
Menghadap yang di atas
Cetak-cetik, cetak-cetik...
Ceritanya lagi asik ngerjain SK mutasi salah seorang pegawai yang bertugas di Satker.
"Mba' Kristin...!" suara Emak yang baru aja kembali dari ruangan Pak Bos.
"Hadir, Bu..." masih terbawa suasana Prajab 2 bulan yang lalu, jadi setiap dipanggil serasa lagi diabsen gitu.
Bukannya melanjutkan instruksi, Emak malah kaget mendengar jawabanku barusan, beliau terdiam menatap heran padaku, tidak percaya dan merasa aneh dengan jawaban yang baru saja terlontar dari mulutku. Setelah mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali akhirnya dia kembali ke bumi.
"Ng... hahaha! Mba' Kristin ada-ada saja..!"
Gantian aku yang terbengong-bengong sekarang, mata plangak-plongok otak kosong..
"Ah! Saya jadi lupa!! Ini, Mba' Kristin tolong antarkan ke ruang Pak Sesba, ya.. Ini bahan untuk acara sosialisasi nanti siang. Tolong kasih ke Pak A (inisial), ya. Tolong cepat, ya, Mba.."
Akhirnya isntruksi turun juga.
"Baik, Bu.. Siap, laksanakan!" masih dengan pengaruh kuat suasana Prajab.
Tak ingin terbawa dalam suasana Prajab yang menaungiku, si Emak segera berlalu menuju mejanya di ruangan seberang.
Pak Sesba... nama yang kalo disebutkan bisa membuat sebagian orang ketar-ketir. Ruangannya ada di lantai 3 sana dan kalo ke sana harus berpakaian lengkap dan rapi, sandal jepit adalah hal yang tabu di sana jadi segera kupakai sepatuku, kurapikan pakaianku, dan menarik napas panjang serta tak lupa menghembuskannya kembali.
"Bu..." panggilku pada Ibu SY (masih tetap inisial) yang mejanya ada di depan pintu ruangan.
"Ya? Ada apa Mba Kristin?" Raut wajahnya berubah mengikuti raut wajahku yang seharusnya menyiratkan kecemasan.
"Ibu.." aku melambatkan ucapanku.
"Hmm.."
"Hiks... Saya pergi dulu sebentar, ya. Saya titip ruangan ya, Bu.."
"Mba' Kristin mau kemana?" sepertinya kecemasannya bertambah.
"Hiks..! Saya mau menghadap yang di atas dulu, Bu.."
Bu SY membeku di mejanya, bingung antara harus marah ato ketawa dan aku segera berlalu menuju ruangan Pak Sesba.
Ceritanya lagi asik ngerjain SK mutasi salah seorang pegawai yang bertugas di Satker.
"Mba' Kristin...!" suara Emak yang baru aja kembali dari ruangan Pak Bos.
"Hadir, Bu..." masih terbawa suasana Prajab 2 bulan yang lalu, jadi setiap dipanggil serasa lagi diabsen gitu.
Bukannya melanjutkan instruksi, Emak malah kaget mendengar jawabanku barusan, beliau terdiam menatap heran padaku, tidak percaya dan merasa aneh dengan jawaban yang baru saja terlontar dari mulutku. Setelah mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali akhirnya dia kembali ke bumi.
"Ng... hahaha! Mba' Kristin ada-ada saja..!"
Gantian aku yang terbengong-bengong sekarang, mata plangak-plongok otak kosong..
"Ah! Saya jadi lupa!! Ini, Mba' Kristin tolong antarkan ke ruang Pak Sesba, ya.. Ini bahan untuk acara sosialisasi nanti siang. Tolong kasih ke Pak A (inisial), ya. Tolong cepat, ya, Mba.."
Akhirnya isntruksi turun juga.
"Baik, Bu.. Siap, laksanakan!" masih dengan pengaruh kuat suasana Prajab.
Tak ingin terbawa dalam suasana Prajab yang menaungiku, si Emak segera berlalu menuju mejanya di ruangan seberang.
Pak Sesba... nama yang kalo disebutkan bisa membuat sebagian orang ketar-ketir. Ruangannya ada di lantai 3 sana dan kalo ke sana harus berpakaian lengkap dan rapi, sandal jepit adalah hal yang tabu di sana jadi segera kupakai sepatuku, kurapikan pakaianku, dan menarik napas panjang serta tak lupa menghembuskannya kembali.
"Bu..." panggilku pada Ibu SY (masih tetap inisial) yang mejanya ada di depan pintu ruangan.
"Ya? Ada apa Mba Kristin?" Raut wajahnya berubah mengikuti raut wajahku yang seharusnya menyiratkan kecemasan.
"Ibu.." aku melambatkan ucapanku.
"Hmm.."
"Hiks... Saya pergi dulu sebentar, ya. Saya titip ruangan ya, Bu.."
"Mba' Kristin mau kemana?" sepertinya kecemasannya bertambah.
"Hiks..! Saya mau menghadap yang di atas dulu, Bu.."
Bu SY membeku di mejanya, bingung antara harus marah ato ketawa dan aku segera berlalu menuju ruangan Pak Sesba.
Senin, 22 Agustus 2011
satu waktu di ruangan TUKM
Na na na na naa....
Na na na na naaa....
Bagaimana caranyaaaa agar kau tau pastii..
Kau lebih dari indaaahh di dalam hati iniiii..
Suara pas-pasan Nikit* W*ll* mengalun dari salah satu komputer yang ada di ruanganku diiringi dengan senandung ragu-ragu oleh beberapa staf, antara takut salah nada dan takut salah lagu.
Pak Rud : "Kemaren saya liat di tipi, itu Nikit* lagi nyanyi bareng Afg*n.. Ya Ampuunn... kebanting buk!"
(Wah! Nikit* kebanting pas lagi nyanyi?? Kok bisa?! Apa mungkin Afg*n tega bantingin anak orang sambil nyanyi??)
Bu Yan : "Iya tuh, dia mah cuma modal tampang doaaangg! Suara pas-pasan.., cuma menang dandanan doang dia"
Pak Rud : "Badannya juga kecil banget ya, sama mba Kristin gedean siapa badannya, Buk?"
Bu Yan : "Ya, sama kayak mba Kristin tapi dia mah, dandannya udah kayak tante-tante...! Coba kalo mba Kristin jg didandanin.."
Kris : "Wuah!! Kalah badut Ancol buk, kalo saya didandanin!!" (Apalagi kalo yang dandanin Iv*n Gun*w*n)
Pak Rud, Bu Yan : "Hahahahaahaa!! Mba Kris bisa ajaa!!"
Hiks! Padahal niatnya dapat jawaban "Ah! Mba Kris kok ngomong gitu... gak kok, masa kayak badut Ancol, Mba Kris kan cantiikk!!", eh! Malah diketawain... :'(
Na na na na naaa....
Bagaimana caranyaaaa agar kau tau pastii..
Kau lebih dari indaaahh di dalam hati iniiii..
Suara pas-pasan Nikit* W*ll* mengalun dari salah satu komputer yang ada di ruanganku diiringi dengan senandung ragu-ragu oleh beberapa staf, antara takut salah nada dan takut salah lagu.
Pak Rud : "Kemaren saya liat di tipi, itu Nikit* lagi nyanyi bareng Afg*n.. Ya Ampuunn... kebanting buk!"
(Wah! Nikit* kebanting pas lagi nyanyi?? Kok bisa?! Apa mungkin Afg*n tega bantingin anak orang sambil nyanyi??)
Bu Yan : "Iya tuh, dia mah cuma modal tampang doaaangg! Suara pas-pasan.., cuma menang dandanan doang dia"
Pak Rud : "Badannya juga kecil banget ya, sama mba Kristin gedean siapa badannya, Buk?"
Bu Yan : "Ya, sama kayak mba Kristin tapi dia mah, dandannya udah kayak tante-tante...! Coba kalo mba Kristin jg didandanin.."
Kris : "Wuah!! Kalah badut Ancol buk, kalo saya didandanin!!" (Apalagi kalo yang dandanin Iv*n Gun*w*n)
Pak Rud, Bu Yan : "Hahahahaahaa!! Mba Kris bisa ajaa!!"
Hiks! Padahal niatnya dapat jawaban "Ah! Mba Kris kok ngomong gitu... gak kok, masa kayak badut Ancol, Mba Kris kan cantiikk!!", eh! Malah diketawain... :'(
W O R S E
Senin, 22 Agustus 2011
Pagi ini dimulai dengan terlambat bangun yang akhirnya diikuti dengan terlambat-terlambat lainnya. Terlambat mandi, terlambat makan, terlambat berangkat ngantor, dan sudah pasti terlambat sampai di kantor. Tapi terlambat itu sudah tidak mungkin dihindari lagi, daripada aku terus menerus mengumpati supir dan pengguna jalan lainnya yang kuanggap turut terlibat dalam keterlambatanku, lebih menyenangkan kalau aku menikmati saja perjalananku. "Nothing will be worse than this" pikirku sambil mengamati pohon-pohon yang kulewati selama perjalanan.
Pagi ini dimulai dengan terlambat bangun yang akhirnya diikuti dengan terlambat-terlambat lainnya. Terlambat mandi, terlambat makan, terlambat berangkat ngantor, dan sudah pasti terlambat sampai di kantor. Tapi terlambat itu sudah tidak mungkin dihindari lagi, daripada aku terus menerus mengumpati supir dan pengguna jalan lainnya yang kuanggap turut terlibat dalam keterlambatanku, lebih menyenangkan kalau aku menikmati saja perjalananku. "Nothing will be worse than this" pikirku sambil mengamati pohon-pohon yang kulewati selama perjalanan.
Begitu sampai di kantor, segera kunyalakan komputer, printer dan menumpuk semua tugas yang harus kuselesaikan hari ini, sebagai penebus rasa bersalah atas keterlambatanku. Begitulah akhirnya aku mencoba membangun semangat kerjaku hari ini sampai si Ibu Kasub (maaf bukan bu Kasur) menghampiriku dan menyampaikan kabar buruk di pagi buta (kalau "bolong" cuma dipake untuk siang katanya).
"Bu Kristin, sepertinya harus membatalkan tiket keberangkatan ke Medan tanggal 25 nanti ya, karena surat ijin yang diajukan kemarin dibatalkan oleh Bapak, berhubung ada surat edaran dari Kementerian yang melarang pegawai untuk tidak hadir pada tanggal 25-26 Agustus dan 5-6 September nanti, baik dengan alasan apapun"
Whaaaaattt???? Tarik napas dalam-dalam, tenangkan diri, "Oh, begitu ya bu, ya, sudah, tidak apa-apa. Nanti saya batalkan tiketnya. Oh ya bu, tadi saya sudah meletakkan di meja ibu, form SK yang harus diserahkan ke Bapak untuk ditandatangani, mungkin masih ada yang perlu diperbaiki.."
Secara halus aku meminta Ibu Kasub untuk meninggalkan mejaku, karena tiba-tiba pikiraanku kacau balau dan hatiku ikut galau. Aku lupa dengan apa yang sedang dan akan kukerjakan. Dengan kekacauan pikiranku, aku cuma bisa memandangi layar monitor. Satu-satunya yang terlintas di kepalaku cuma, "Tiketnya harus diapakan??!"
Tanpa diperintah, tanganku segera membuka-buka website maskapai penerbangan untuk mencari list harga dan jadwal penerbangan, lalu mulai menghubungi travel untuk memberi tahu pembatalan keberangkatanku. :'(
Semangatku hancur! Pekerjaanku berantakan, SK-SK kuprint tanpa memeriksa kembali isinya dan aku terpaksa harus berkali-kali mem-print SK-SK itu karena tetap saja ada kesalahan yang kulakukan. Rasanya seperti sedang bimbingan skripsi di masa-masa PMS aja.
Dengan kondisi kalut seperti itu, aku ternyata masih teringat keluargaku yang belum kukabari tentang pembatalan itu. Segera kuhubungi adikku via chatting, dan dia menunjukkan kekecewaan dan kekesalan yang sama denganku. "GILA!!! Masa ada peraturan begitu??? Katanya PNS kan gampang ngurus ijin..? Ya udah, ganti jadwal penerbangan aja..!!!"
Membayangkan biaya yang harus kukeluarkan untuk mengganti jadwal penerbangan itu, kepalaku langsung overheat. Hiks!!! Tiket sebelumnya aja udah menguras hampir seluruh tabunganku, kalo harus ganti jadwal di saat-saat terakhir berarti aku harus memeras habis seluruh uang terakhir di dompetku...
Pikiranku tadi pagi ternyata salah total!!! "It's really worse than that..."
Jumat, 12 Agustus 2011
What a wonderful world, some where over the rainbow..
*
I see trees of green, red roses too I see them bloom for me and you And I think to myself, what a wonderful world I see skies of blue and clouds of white The bright blessed day, the dark sacred night And I think to myself, what a wonderful world The colours of the rainbow, so pretty in the sky Are also on the faces of people going by I see friends shakin' hands, sayin' "How do you do?" They're really saying "I love you" I hear babies cryin', I watch them grow They'll learn much more than I'll ever know And I think to myself, what a wonderful world Yes, I think to myself, what a wonderful world Oh yeah
**
Somewhere over the rainbow Way up high, There's a land that I heard of Once in a lullaby. Somewhere over the rainbow Skies are blue, And the dreams that you dare to dream Really do come true. Someday I'll wish upon a star And wake up where the clouds are far Behind me. Where troubles melt like lemon drops Away above the chimney tops That's where you'll find me. Somewhere over the rainbow Bluebirds fly. Birds fly over the rainbow. Why then, oh why can't I? If happy little bluebirds fly Beyond the rainbow Why, oh why can't I?
watch this:
http://www.youtube.com/watch?v=s68kK7GyPD8&feature=related
Kamis, 30 Juni 2011
gILa
Mereka bilang aku gila, padahal aku tidak gila, aku yakin aku bukan orang gila. Aku hanya orang yang bisa melihat gelas sebagai kolam renang, melihat hujan seperti ombak, melihat kucing sebagai panda. Aku hanya orang yang bisa mendengar suara rintihan tembok-tembok, mendengar tangisan boneka-boneka beruang di toko, mendengar amukan cermin. Aku cuma orang yang bisa memahami setiap kata yang diucapkan kelinci-kelinci di halamanku, mengerti ucapan lemari kepada meja dan kursi di sekitarnya, berbicara pada angin yang bertiup. Aku hanya orang yang bisa merasakan sakitnya ditampar oleh bayanganku sendiri, merasakan tajamnya sayatan cahaya lampu di kulitku. Hanya itu, dan hanya karena itu pula mereka mengataiku gila.
A STORY
I wrote down this story in my last year in high school. Hope you can enjoy reading it.
FIRE
“Huuuff..!!” Lana menarik napas dalam-dalam. Hanya itu tapi teman-temannya sadar kalau Lana sedang bermasalah. Baik Tris, Ika, May maupun Cece tak ada yang berani berkomentar. Demua hanya memandang Lana dengan penuh cemas.
”Lan, kamu gak pa-pa ’kan? Dari tadi melengos melulu, ceritain dong masalahmu. Seandainya pun gak bisa dibantu, paling tidak kamu ’kan bisa berbagi,” pada akhirnya Tris mulai buka suara.
”Hmm, kita ’kan lagi liburan, masa kamu bawa-bawa masalah segala ke sini. Seharusnya kamu hepi-hepi aja, gak usah terlalu dipikirin,” May ikutan ngomong. Tapi Lana tetap bungkam.
Sementara di sekitar mereka puluhan teman sekelas mereka sedang asyik menikmati hidangan barbeque yang mereka buat bersama-sama. Lana dan semua teman sekelasnya berlibur di villa milik keluarga Lana begitu selesai UAN. Semua tampak gembira kecuali Lana, cs.
”Juna memutuskan hubungan kami,” Lana berterus terang.
”APA...A?!!” seru keempat temannya.
”Katanya dia mau sekolah di Australi..., sudahlah, aku ngantuk aku tidur duluan, ya..” Lana segera beranjak dari halaman menuju kamarnya. Teman-temannya tidak bisa mencegah.
Malam sudah larut, semua orang sudah terlelap termasuk Lana, cs. Tak ada yang ingat kalau api di tempat pemanggangan barbeque belum dipadamkan. Sementara angin bertiup kencang, api yang tadinya kecil bertambah besar. Kobaran api mulai menyambar pohon cemara yang ada di dekatnya dan akhirnya merambat ke dinding villa yang terbuat dari kayu. Angin kencang membuat api cepat meluas.
”APII..II!!” tiba-tiba seseorang berteriak mengejutkan semua orang di villa itu.
”Kya..aa!! Tolong..! Kebakaran!! Kebakaran!!” orang-orang mulai berteriak-teriak sambil berusaha menyelamatkan diri masing-masing.
Tak ketinggalan Lana, cs, mereka semua panik dan berusaha keluar dari kamar mereka yang ada di lantai atas. Tapi sayang Lana terlambat keluar, api telah membakar pintu kamarnya.
”Tolong!! Aku terperangkap!!” Lana mulai ketakutan. Diperhatikannya sekelilingnya dengan cepat. ”Selimut!” pikir Lana, langsung diraihnya selimut tebal yang ada di tempat tidur dan dibawanya ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu untuk dibasahi.
”Semoga berhasil..” kata Lana sambil menyelimuti tubuh dan kepalanya dengan selimut basah. Lalu dengan sekuat tenaga dia berlari menembus api yang membakar pintu kamar villa itu. Dan berhasil! Lana berlari sambil memperhatikan jalan di hadapannya.
Sementara itu semua teman Lana telah berhasil keluar. Mereka menangis dan berpelukan, sebagian lagi berusaha memadamkan api.
”Syukurlah kita selamat..” tangis May dalam pelukan teman-temannya.
”Lana? Dimana Lana, dimana dia?” Tris sadar Lana tak ada diantara mereka yang selamat. Yang lain mulai panik mencari-cari Lana.
”Juna kamu lihat Lana?” tanya Ika pada Juna yang sibuk membantu petugas yang baru tiba.
”Tidak! Apa dia masih di dalam? Hah?!” Juna tambah panik ketika melihat api yang hampir membakar seluruh villa.
Saat yang sama Lana sedang berjuang menyelamatkan diri. Dia terus berlari menuruni tangga yang dipenuhi api. Tiba-tiba tangga itu rubuh. Lana terjatuh ke lantai bawah yang penuh api.
“Kya...a!!!” teriaknya.
Dalam sekejap pandangan Lana menjadi gelap, tubuhnya tidak bias bergerak.
Sementara Juna juga sedang berusaha menerobos masuk ke dalam villa yang hampir habis dilalap api. Dia ingin menyelamatkan Lana.
”Lana, dimana kamu?! Bertahanlah!!!” teriaknya ditengah kobaran api.
Lana tidak dapat mendengar teriakan Juna, dia masih setengah sadar, terbaring di antara lidah-lidah api yang membara. Perlahan-lahan dia membuka matanya, dia mencoba melihat keadaan sekelilingnya. Tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menyerang kepalanya.
”Kepalaku..sakit sekalii!! Rasanya kepalaku mau pecah...”rintihnya.
Sambil memegang kepalanya, Lana berusaha untuk bangkit. Dia melihat selimut basah yang dipakainya tadi tergeletak hanya beberapa sentimeter dari kakinya, namun dia tidak memperdulikannya lagi. Dia tetap berjalan mencari jalan keluar meskipun dengan langkah sempoyongan. Dadanya terasa sesak lantaran asap yang terhirup olehnya sudah memenuhi paru-parunya. Matanya pun sudah terasa perih sekali. Namun entah kenapa Kana merasa mendapat kekuatan baru setelah pingsan tadi. Itu sebabnya dia sangat bersemangat untuk keluar dari tempat itu.
Usaha Lana tidak sia-sia, sebentar saja dia sudah berada di luar villa, tepatnya di bagian belakang villa. Setelah berhasil keluar dia mencari teman-temannya yang lain.
Sementara itu di dalam villa, Juna menemukan sesosok tubuh yang terbungkus selimut basah, tergelat persis di bawah patahan tangga. Tubuh itu tampak sudah tidak bernyawa lagi. Dengan hati-hati Juna menggotong tubuh tak bernyawa itu keluar dari kobaran api.
Begitu berada di luar kembali, teman-teman Lana langsung menyerbunya. Mereka ingin tahu siapa yang sedang digotong Juna.
Sementara itu Lana yang telah menemukan teman-temannya segera berlari sambil memanggil nama mereka satu persatu. Namun tak seorang pun yang memperdulikannya, teman-temannya tampak sangat shock begitu mengetahui siapa yang telah digotong Juna tadi.
Mereka semua bertangisan, semua tampak begitu sedih sampai membuat Lana penasaran. Kemudian dia pun segera melihat sosok tubuh yang sudah tak bernyawa itu.
Matanya langsung terbelalak lebar setelah melihat tubuh itu. Dia bahkan jauh lebih shock setelah mengetahui bahwa itu adalah dirinya sendiri. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kemudian dia memperhatikan teman-teman di sekitarnya.
”Tris.. ini aku. Aku masih hidup, aku belum mati Tris. Tris jawab aku!!!” teriaknya pada Tris yang berdiri tepat di hadapannya. Tris tidak memperdulikan teriakan Lana. Tris terus saja menangis Lana pun beralih kepada Ika dan Cece.
”Ika! Cece! Ini aku. Ini Lana.. Heyy! Ada apa dengan kalian, aku masih hidup!!” Lana berusaha berbicara dengan mereka namun mereka pun tetap tidak memperdulikannya. Begitu juga dengan May yang menangis di samping Tris.
Lana tidak putus asa, dia berusaha menggapai tubuh Juna yang berguncang akibat tangisnya yang tersedu. Namun tidak berhasil, tangan Lana justru menembus tubuh Juna. Lana tidak bisa menyentuh tubuh siapa pun yang ada di situ. Bahkan tubuhnya sendiri.
”Tidaak!! Aku tidak mau mati, aku masih ingin hidup.. Aku masih ingin hidu...upp!” seru Lana dengan suara nyaring. Namun tidak seorang pun yang dapat mendengarnya.
Rabu, 22 Juni 2011
HOW COULD AN ANGEL BREAK MY HEART
I heard he sang a lullaby
I heard he sang it from his heart
When I found out thought I would die
Because that lullaby was mine
I heard he sealed it with a kiss
He gently kissed her cherry lips
I found that so hard to believe
Because his kiss belonged to me
How could an angel break my heart
Why didn't he catch my falling star
I wish I didn't wish so hard
May be I wished our love apart
How could an angel break my heart
I heard her face was white as rain
Soft as a rose that blooms in May
He keeps her picture in a frame
And when he sleeps he calls her name
( From: http://www.elyrics.net/read/t/toni-braxton-lyrics/how-could-an-angel-break-my-heart-lyrics.html )
I wonder if she makes him smile
The way he used to smile at me
I hope she doesn't make him laugh
Because his laugh belongs to me
How could an angel break my heart
Why didn't he catch may falling star
I wish i didn't wish so hard
Maybe I wish our love apart
How could an angel break my heart
Oh my soul is dying, it's crying
I'm trying to understand
Please help me
How could an angel break my heart
Why didn't he catch my falling star
I wish I didn't wish so hard
Maybe I wished our love apart
How could an angel break my heart
I heard he sang it from his heart
When I found out thought I would die
Because that lullaby was mine
I heard he sealed it with a kiss
He gently kissed her cherry lips
I found that so hard to believe
Because his kiss belonged to me
How could an angel break my heart
Why didn't he catch my falling star
I wish I didn't wish so hard
May be I wished our love apart
How could an angel break my heart
I heard her face was white as rain
Soft as a rose that blooms in May
He keeps her picture in a frame
And when he sleeps he calls her name
( From: http://www.elyrics.net/read/t/toni-braxton-lyrics/how-could-an-angel-break-my-heart-lyrics.html )
I wonder if she makes him smile
The way he used to smile at me
I hope she doesn't make him laugh
Because his laugh belongs to me
How could an angel break my heart
Why didn't he catch may falling star
I wish i didn't wish so hard
Maybe I wish our love apart
How could an angel break my heart
Oh my soul is dying, it's crying
I'm trying to understand
Please help me
How could an angel break my heart
Why didn't he catch my falling star
I wish I didn't wish so hard
Maybe I wished our love apart
How could an angel break my heart
Senin, 20 Juni 2011
Daddy's silent demand
One afternoon, my father and I watched the news on television. in silence, we both watched the news about the marriage that is being aired at that time. Not the marriage of the royal family such as Prince William and Kate recently but the marriage between couples of different nationality. It is not regular partners, they come from two countries in war. The bride is a citizen of Israel and the groom are citizens of Palestine.
Before the wedding begins, the bride and groom were walking from their countries and meet the country's borders. yes, their wedding ceremony held in the border region between the two countries. When the bride and groom met at the altar, the atmosphere was very touching, the guests appear to tears.
That's the news about the wedding was over and we watched without giving any comment. But when I moved from the front of the television all of a sudden my dad said "definitely very proud if I could have a daughter like that".
Until now I never comment on his words but in my heart the words that seemed to be a demand for me.
Before the wedding begins, the bride and groom were walking from their countries and meet the country's borders. yes, their wedding ceremony held in the border region between the two countries. When the bride and groom met at the altar, the atmosphere was very touching, the guests appear to tears.
That's the news about the wedding was over and we watched without giving any comment. But when I moved from the front of the television all of a sudden my dad said "definitely very proud if I could have a daughter like that".
Until now I never comment on his words but in my heart the words that seemed to be a demand for me.
Langganan:
Postingan (Atom)