Senin, 25 Juni 2012

Karena setiap penyakit ada obatnya..


Sepenggal percakapan dengan senior sebut saja Bone yang menurut pengakuannya sedang sakit di rumah sakit:

Bone: Nopeeeee
Tok ulukku

Itin/Nope: bahh boasa??
allang ubati sapapan
Bone: Toho do on daba
Sahit na leleng i kumat
Fuuhh!!!

Itin/Nope: ai aha i puang?

Bone: Ro do annon ho manang aha terjadi tu au?

Itin/Nope: bahh..
molo adong na mangongkosi ro pe ahu

Bone:
Nope...

Itin/Nope: hmmmm?

Bone: Kalo aku mati, ga mgkn sempat kasih wasiat
Supaya ongkosmu di handle staffku

Itin/Nope: hmmmm
skrglah dahulukan

Bone: Skrg pula
Ngarep kw ya
Itin/Nope: hmmmm...
kalo kau mati sih, mungkin aku ga sempat lah bone..
aku harus mengurus anak2ku yg banyak itu nanti, blom lagi suamiku yg ga rela kutinggalkan

Bone: Ga sempat ngapai kw
Ciah!!!
Udah nikah kw

Itin/Nope: ga sempat aku datang
skrg sih blom nikah
tapi kalo kau mati pasti aku udah menikah dan punya banyak anak

Bone: Trus???
Husss...sok tahu usia kw...
Sakit x nov

Itin/Nope: bahhh...

Bone: Di rumah sakit aq ini

Itin/Nope: sakit apa rupanya itu?
sakit apa rupanya yg ga ada obatnya di dunia ini?

Bone: Kepalaku..

Itin/Nope: hmmmm...
sipata unang attong boan2 ulumi, tinggalhon satokkin
tapi, aku baru tau kalo kau sakit kepala dari dulu bone

Bone: Hahahahaha
Makin pintar kw ya nope

Itin/Nope: iya dooooooooonggg...

Bone: Jdi pengen kujambak kw...

Itin/Nope: jakarta membuatku makin stres
semakin aku stres semakin aku pintar
Bone: Stress mu bijak ya
Itin/Nope: hahhahahhaha...

Bone: Wkwkwkwkwkw

Itin/Nope: dari pada dipijak2

Bone: Kan..makin pintar bereku ini daba...
Itin/Nope: hohohoohoo...

Bone: Udah 3 hari aku disini
Untung ada asuransi,

Itin/Nope: bah
kukira krn udah banyak uangmu bone
rupanya asuransi




Hmmm... cuma percakapan aneh dan singkat seperti yang sering kulakukan dengan orang2 seperjuanganku. Tapi begitulah. Ntah benar, ntah nggak si Bone itu sakit, mudah-mudahan percakapan tadi bisa membantunya pulih lebih cepat. Karena hati yang gembira adalah obat. Lagipula aku pernah baca hasil kajian seseorang ntah dimana, katanya semakin kita memikirkan kematian, semakin panjang umur kita. 
Btw, aku cuma bercanda kok blg bakal punya anak banyak... DUA CUKUP!!!
Haiyaahh!! Jangan tanya bapaknya dimana ya?!!




Jumat, 15 Juni 2012

Will never forget this day...

Meskipun pagiku diawali dengan suasana hati yang buruk, ternyata tidak berarti aku akan menghabiskan sepanjang hari dengan murung ato marah-marah. Semuanya dimulai dari penemuan sekotak lipton peppermint tea di sudut toko waralaba indomaret saat berbelanja tadi sore. Tanpa beripikir panjang aku langsung menyambarnya, sekilas aku sempat melihat label harganya, yah, mungkin mahal tapi tidak seberapa kalau dibandingkan dengan kenangan yang ada pada teh itu. Aku sudah tau apa yang akan kulakukan begitu aku sampai di kamarku, mendidihkan air dan menyeduh teh.
Tapi ternyata sampai di kamar ada hal lain yang menggodaku, laptop dan modem yang menganggur. Tentu saja teh terpaksa harus menunggu karena kebutuhan akan interaksi sosial lebih besar saat ini (kost-an masih sepi, blom ada yang pulang, masa aku ngomong sama tembok??!). Jadilah aku menyalakan laptop dan mengaktifkan perpesanan instan (Halah! sebut saja YM, red.). 
Aku sempat tenggelam cukup lama dalam perbincangan dengan temanku Yussa di YM itu. Banyak topik yg kami bicarakan, seperti biasa, tak ada yg akan bisa menebak ujung pangkal pembicaraan kami. Tadi saja kami memulainya dengan topik betapa kami bisa sangat melankolis ketika mendengar lagu2 rohani. 
Seperti terlihat pada kutipan berikut:

Yussa: aku kadang cengeng x
Yussa: dengar lagu gereja tertentu, suka terharu
Yussa: hehehe
Itin: wah sama
Itin: di gereja kalo lagi menyanyikan lagu tertentu mataku langsung berkaca2
Itin: ato pas lagi berdoa

Lalu topik tiba2 berlanjut ke masalah foto, program perpesanan instan (tapi bukan YM, red.), dan di tengah-tengah percakapan aku pamit sebentar karena teringat akan teh dan juga keinginan mendadak untuk makan spageti. Jadi begitulah aku mendidihkan air untuk keperluanku itu. Sambil menunggu air mendidih, percakapan kami berlanjut, tiba-tiba topiknya sudah lompat ke hal lain yang mengejutkan...

Itin : yus kau lagi dimanakah?
Yussa: disini
Yussa: aku malu
Yussa: aku baru diruangan kordinator
Yussa: fotoku masuk medan bisnis, malu x.
Itin: foto apaaaa?
Itin: kau pelaku perampokan yaa???

Ok, jadi ternyata temanku Yussa tersayang itu dalam sekejap tanpa sepengetahuannya, sudah diekspos oleh salah satu harian lokal kota kelahiranku. O-Ow! Aku? Haha... Belum pernah merasa sesemangat ini, aku sudah berencana akan menyebarkan juga beritanya ke teman-teman terdekat lain. Ini adalah sensasi dan fenomena!!! Tapi apa daya, si pemilik foto tidak bersedia fotonya disebarkan lagi. Menurutnya dia sudah cukup tertekan dengan kehebohan di kantornya akibat berita itu. Sayang sekalii... :'(


Itin: YUS
Itin: KAU MEMANG FENOMENALL
Itin: BWAHAHHAHAHAHA
Yussa: tin, stres aku nanti. cukuplah itu.
Itin: TUNGGU SAMPE ICHIN, GRACE, CHRISTINE, DAN JOHAN MEMBACA ARTIKELNYA
Yussa: janganlah
Itin: :))
Yussa: ya tuhan
Yussa: malu aku tin


Tapi... tunggu dulu!!! Foto itu, rasanya aku pernah lihat di suatu tempat, foto itu cukup familiar untukku. Hmm... sebentar, bajunya, roknya, gayanya.... Aaaahh!! Fotoku sesaat setelah sidang skripsi. Yeah, aku yakin aku pernah berfoto dengan gaya yang mirip. Aku langsung mencari-cari foto itu di album facebook (aku gak tega menyebutnya dengan buku wajah..) dan benar saja, foto itu memang ada. Hahaha!! Aku takjub... (sampai nyaris melupakan air yang sedang kudidihkan)

Setelah menyeduh teh dan merebus spageti didalam air mendidih yang tersisa di panci, aku segera mengedit menyimpan kedua foto itu dan mengeditnya. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin memberitahu Yussa dan memperlihatkan foto itu padanya. Tapi ternyata dia sudah memindahkan YM nya ke ponsel, aku gak mungkin mengirimkan gambar editanku melalui YM. Jadi aku cuma memberi taunya saja.

Kalian bisa liat fotonya nih :


see?!! see??! see!!! They're similar, rite??

Huaahh... Masih terharu dan masih mau melanjutkan percakapan dengan Yussa, tapi berhubung YMnya aktif dari ponsel, butuh waktu agak lama. Jadi pembicaraan sering terhenti untuk jeda yang agak panjang.

Sejenak suasana mulai tenang, semangatku yang berkobar-kobar tadi mulai menguap. Sekarang aku fokus pada spagetiku yang, yeah, kau pasti menyadarinya, terlalu matang! Lalu aku juga menikmati teh peppermintku. Rasanya menenangkan, dan segera saja aku juga merindukan dua orang temanku yang lain, Passe dan JuDe (karena yang terakhir tak pernah rela disebut JuPe). Di tahun-tahun terakhir kuliah kami sering menghabiskan waktu bersama sambil menikmati teh peppermint di salah satu cafe eskrim di kota kelahiranku. Dan itu benar-benar menjadi saat-saat berharga karena setelah lulus kuliah, intensitas komunikasi kami berkurang. Lagipula aku suka teh peppermint di cafe itu dan sejak itu aku selalu mencari-carinya di supermarket ato swalayan yang kudatangi. Waktu menemukannya tadi aku benar-benar senang dan tak menduga kalo aku akan menemukannya di toko yang selalu kukunjungi minimal sekali dalam seminggu itu.

Lalu tanpa kusadari, ternyata cuaca di luar sudah berubah total, yang tadinya cerah tiba-tiba sudah mendung dan gerimis. Ok, honestly, my mood is swinging, sekarang perasaanku sudah berubah manjadi melankolis. Ohh.. this peppermint tea change my mood. But it's ok, since I have to take a rest, I need to soothe my spirit..

Oh!! Satu lagi, ternyata Yussa berbaik hati mengijinkanku membagikan link website yang menampilkan berita tentang dirinya itu. Hohohohooo...


Check this out!!! Hurry up!!!



I will never forget this day.. Fhiuuuh!!!

Rabu, 06 Juni 2012

The Other Tale (part 5)

Buruk! Ini buruk!!
Siapa yang akan menyangka kalo orang menyeramkan itu akan kembali lagi untuk menagih bayarannya. Dan karena aku tidak mampu membayar dia menyuruhku untuk bekerja di rumahnya. Tapi ini memang salahku dan aku harus bertanggung jawab untuk kesalahanku itu. Huahh! Semasa hidupku di lautan aku adalah putri raja dan sekarang aku malah menjadi pembantu. Ini benar-benar berbeda dari yang kuharapkan, ayah aku mau pulaaangg!!


Di tempat ini aku benar-benar harus bekerja keras, membersihkan rumah, memasak dan mengurus kebun. Ini menyedihkan, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya bahkan ketika tinggal bersama para kurcaci. Aku tidak punya waktu untuk mencari keluarga ibu tiriku lagi. Bagaimana ini ayah? Belum lagi orang yang menyeramkan itu ternyata aneh sekali, dia sangat pendiam nyaris tidak pernah berbicara kecuali untuk menyuruhku melakukan sesuatu. Dia juga lebih sering mengurung diri di kamarnya kalau tidak sedang pergi berdagang. Ah! Aku tidak tau itu bisa disebut berdagang atau tidak karena dia lebih mirip penipu kalau cara berdagangnya seperti waktu itu.

Tapi kenapa ya, walaupun dia sangat aneh dan menyeramkan aku tidak pernah merasa takut berada di dekatnya. Kadang-kadang aku malah berpikir dia cuma kesepian karena tidak punya teman. Ya, tapi mau bagaimana lagi, dia juga bersikap aneh seperti itu. Lagipula di rumah ini aku punya teman-teman baru, piring, gelas, cangkir, teko, tempat lilin dan banyak lagi. Aneh ya? Berteman dengan benda-benda seperti itu, tapi ya ternyata selain si pemilik rumah, seisi rumahnya juga aneh, bisa bergerak dan berbicara sendiri.

Sudah hampir satu bulan aku bekerja untuk orang menyeramkan itu, kurasa itu sudah cukup untuk membayar hutang apelku waktu itu. Sekarang aku mau keluar dari rumah ini dan berhenti menjadi pembantunya. Tapi bagaimana caranya? Sebaiknya aku kabur saja waktu dia sedang pergi berdagang, ah tapi itu tidak baik. Kalau aku permisi juga kemungkinan besar tidak akan diijinkan atau jangan-jangan aku malah dikurung. Wah! Tak ada jalan lain selain kabur diam-diam.

Daaann... aku berhasil! Sekarang aku sudah berada di tengah hutan lagi! Berjalan sendirian tanpa arah yang pasti, hanya mengikuti jalan setapak yang ada. Sekarang aku benar-benar harus berhati-hati terhadap orang-orang yang kutemui di perjalanan, jangan sampai aku tertipu atau terjebak lagi. Dunia daratan ini jauh lebih mengerikan daripada di lautan. Ayah, ibu tiriku itu ada dimana siiiihh?


The Other Tale (part 4)

Sudah seminggu aku tinggal bersama para kurcaci, aku terlalu bahagia bersama mereka sampai aku lupa dengan tujuanku datang ke darat ini. Wah.. aku harus segera memulai lagi perjalananku tapi kemana aku harus pergi? Aku sudah kehilangan petaku serta semua barang-barangku. Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Aku ingin segera bertemu dengan keluarga tiriku. Aku terus berpikir sambil berjalan menyusuri hutan buah-buahan.

Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sehingga aku tidak memperhatikan langkahku. Tanpa sengaja aku menubruk seseorang dan membuatnya menjatuhkan keranjangnya yang penuh buah. Aduh! aku benar-benar ceroboh, segera aku minta maaf dan membantunya memunguti buah-buahnya yang berserakan. Kemudian aku mengembalikan keranjang buah itu pada pemiliknya yang sejak tadi membiarkanku memungut buah itu sendirian.

Astagaa!! Aku terlonjak saat melihat wajah pemilik buah itu. Dia..dia terlihat seperti mahluk yang sangat menyeramkan! Aku jadi teringat dengan nenek di rumah coklat itu dan aku jadi sangat ketakutan. Orang itu juga tampaknya tidak ramah, sepertinya dia kesal melihat ekspresiku barusan. Dia segera merebut keranjang buah di tanganku dan pergi berlalu tanpa mengucapkan apa-apa. Sepertinya aku sudah membuatnya tersinggung...

Beberapa hari kemudian aku bertemu lagi dengan orang berwajah menyeramkan itu. Kali ini dia datang ke rumah kurcaci membawa sekeranjang apel besar yang berwarna merah mengilat. Aku tergiur melihat apel-apelnya itu, oleh karena itu ketika dia menyodorkan salah satu apel yang paling besar dan paling mengilat, langsung kuterima dan kumakan tanpa berpikir panjang lagi. Setelah apel besar itu habis aku masih mau beberapa apel lagi dan dia dengan baiknya menyerahkan sekeranjang apel itu untukku. Aku tidak menyadari akal bulus orang tersebut. Baru setelah apel-apelnya habis kumakan, dia menyerahkan selembar tagihan untuk membayar apel-apel itu. Harga apel-apel itu mahal sekali.

Aku benar-benar terkejut dan panik karena tidak punya uang untuk membayar tagihannya tapi tak mungkin juga aku meminjam uang dari para kurcaci karena mereka sendiri sedang kesulitan. Tak ada jalan lain, aku pun menjatuhkan diriku ke lantai, pura-pura pingsan. Sepertinya berhasil dan orang menyeramkan itu langsung pergi.  Fiuhhh!!!

The Other Tale (part 3)

Kemudian aku meneruskan perjalananku tanpa sempat beristirahat. Kejadian tadi membuatku lebih hati-hati dan tidak berniat sama sekali untuk mencari tempat penginapan lagi. Dengan kelopak mata yang berat dan langkah yang terseok-seok akibat rasa kantukku, aku kembali berjalan menyusuri hutan yang sangat gelap. Tanpa kusadari ternyata di depanku ada sebuah batu besar dan kakiku tersandung oleh batu itu. Aku pun terjatuh dan pingsan.

Matahari sudah tinggi sekali saat aku sadar dari pingsan. Rasa haus dan lapar segera menyerangku. Aku ingin mengambil bekalku tapi aku langsung teringat ternyata keranjangku ketinggalan di rumah nenek aneh itu. Ah, aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Bagaimana aku bisa sampai ke rumah ibu tiriku? Air mataku mulai menetes… mungkin sebaiknya aku pulang saja ke tempat ayah, pikirku.

Tiba-tiba hidungku menangkap aroma makanan yang sepertinya sangat lezat. Rasa laparku segera membimbing langkahku mengikuti aroma makanan itu. Semakin jauh aku melangkah, aroma makanan itu semakin kuat. Rasa laparku semakin menjadi-jadi. Aku pun mempercepat langkahku agar segera sampai ke tempat makanan itu.

Tak lama kemudian aku sudah berada di depan sebuah rumah mungil (lagi-lagi..) tapi kali ini rumahnya tampak seperti rumah normal biasa, hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil. Aroma makanan itu sepertinya berasal dari rumah itu. Pintu rumah itu terbuka lebar, kuketuk pintu itu untuk memanggil pemilik rumah. Tidak mendapat jawaban apa-apa, aku pun langsung masuk ke dalam rumah itu dan segera menuju ruang dapur. Aku harus menundukkan kepalaku agar bisa berjalan di dalam rumah itu. Aku membayangkan betapa mungilnya orang-orang yang tinggal di sana.

Ternyata di meja makan rumah itu sudah terhidang 7 mangkuk bubur dan 7 gelas susu. Semua nya dalam porsi yang mungil. Mungkin penghuni rumah ini sedang melakukan diet, pikirku. Rasa laparku semakin mendesakku untuk segera mengisi perutku. Aku pun segera menyantap makanan dan minuman yang ada di atas meja itu. Mangkuk pertama kuhabiskan, namun aku masih lapar, kuambil mangkuk kedua, ketiga, keempat, sampai akhirnya aku menghabiskan semua bubur yang ada di sana. Begitu juga dengan susunya, aku meminum habis ke tujuh gelas susu itu. Akhirnya aku bisa merasa kenyang.

Seperti biasa, sehabis makan aku langsung diserang rasa kantuk yang luar biasa. Aku pun mencari kamar tidur. Tapi alangkah terkejutnya aku melihat tujuh tempat tidur berukuran mini yang ada di dalam kamar tidur itu. Aku tidak mungkin bisa tidur di sana, badanku terlalu besar untuk ukuran tempat tidur mini itu. Aku pun merapatkan ke tujuh tempat tidur itu agar aku bisa tidur di sana. Rasanya nyaman sekali, aku pun langsung tertidur lelap.

Aku terbangun oleh suara gaduh di luar kamar. Saat aku membuka mataku di hadapanku sudah ada tujuh kurcaci yang tampak sangat marah. Aku segera melompat dari tempat tidur. Aku ingin sekali berlari ke luar rumah itu agar tidak dimarahi oleh kurcaci-kurcaci itu. Tapi kakiku tak bisa kugerakkan mulutku pun tak bisa berkata-kata. Aku sangat ketakutan dan tanpa kusadari aku menangis. Aku menangis sejadi-jadinya.
Tangisanku ternyata bisa meredakan amarah para kurcaci itu. Mereka pun segera memaafkanku dan menenangkanku. Setelah aku berhenti menangis, mereka memintaku untuk memperkenalkan diriku. Akupun menceritakan semuanya pada mereka. Setelah mereka berembuk sebentar, mereka pun mengijinkanku untuk tinggal sementara waktu di rumah mungil mereka.

Ahh.. untunglah, ternyata para kurcaci itu cukup baik hati. Mereka memperkenalkan diri mereka satu persatu kepadaku dan kami segera menjadi teman. Aku senang sekali, setidaknya aku punya tempat tinggal sekarang.

(be patient for the next part..)

The Other Tale (part 2)

Aku memulai perjalananku yang pertama di daratan ini. Aku sengaja memilih gaun yang pendek agar aku bisa melangkah dengan bebas. Tak lupa aku juga mengenakan jubah merah kesayanganku (baru kali ini aku bisa memakainya) dan membawa keranjang yang berisi bekal makanan, pakaian dan barang-barang lain yang sudah dipersiapkan ayah untukku.


Ughh! Ternyata perjalanan di darat sangat berat, harus mendaki gunung, lewati lembah serta menyeberangi sungai yang mengalir indah ke samudera. Ahh… sangat melelahkan maka aku pun memutuskan untuk istrahat sejenak. Tapi setelah kuperhatikan ternyata aku sedang berada di tengah hutan dan matahari sudah mulai tenggelam. Aku mulai merasa tidak aman, apalagi mendengar suara-suara yang aneh yang ntah dari mana asalnya. Perasaanku semakin kalut ketika aku mendengar ada suara langkah yang mendekat. Tanpa pikir panjang aku langsung lari sekuat tenaga, menembus pepohonan dan tanpa kusadari peta yang kusimpan di saku jubahku terjatuh dan terbang entah kemana.

Setelah berlari cukup jauh, aku merasa aman dan memutuskan untuk mencari tempat penginapan terdekat agar aku benar-benar bisa beristirahat. Tapi yang kudapati hanyalah sebuah rumah mungil dengan lampu dan perapian yang masih menyala. Rumah itu tampak seperti rumah mainan yang lucu yang terbuat dari roti dan gula-gula kesukaan anak kecil. Hmmm.. rasanya pasti manis sekali, sayang aku kurang suka makanan yang terlalu manis.

Aku pun mengetuk pintu rumah itu dan seorang nenek yang terlihat sedikit aneh muncul dibalik pintu. Nenek itu memiliki hidung yang cukup panjang dan senyumnya agak menyeringai, membuatku sedikit takut. Namun wajah penyihir latutan jauh lebih menyeramkan jadi aku sudah terbiasa melihat wajah seperti itu. Ternyata meski berwajah agak menyeramkan, nenek itu sungguh baik, dia mengijinkanku tinggal semalam di rumahnya. Aku senang sekali dan segera menuju kamarku untuk beristirahat, seperti yang disarankan nenek itu kepadaku. Malam ini aku beristirahat dengan nyaman…

Oh-oh.. ternyata tidak, sebelum mataku terpejam aku mendengar ada suara keributan di luar kamarku. Rasa penasaranku membuat lelah dan kantukku hilang, aku segera keluar kamar, mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Ternyata… aku menemukan dua orang nenek yang sama di ruang duduk. Ahh! Bukan tapi mereka agak mirip hanya saja satu berhidung panjang seperti serigala dan yang satunya berhidung besar dan mancung, persis paruh burung hantu. Sepertinya mereka berdua sedang bertengkar memperebutkan sesuatu yang akan menjadi bahan masakan mereka. Dan..dan...sepertinya itu adalah aku!!!

Aaaahhhh!!! Tidaaaakk!! Bagaimana ini?? Aku harus pergi dari sini..! Tapi kemana? Bagaimana aku keluar dari sini?!

Tiba-tiba aku teringat, semoga rumah ini benar-benar terbuat dari roti dan gula-gula.. Aku pun mulai memakani dinding kamarku yang ternyata memang terbuat dari batangan cokelat. Untung rasanya tidak terlalu manis. Ughh! Kalo ayah tahu aku telah memakan cokelat sebanyak ini, dia pasti akan marah besar… Maafkanlah aku ayah, ini demi keselamatan nyawaku.

Akhirnya aku berhasil melarikan diri dari kedua nenek aneh itu sebelum mereka menyadarinya. Horeee..!!


The Other Tale (part-1)

Hai, aku seorang putri, ayahku adalah seorang penguasa lautan yang tentunya tinggal di dasar laut. Aku punya banyak sekali teman yang terdiri dari berbagai jenis ikan dan peghuni laut lainnya. Meski aku putri penguasa laut, aku punya impian untuk tinggal di darat bersama pangeran impianku.

Dulu aku pernah menyelamatkan seorang pangeran daratan tapi aku tidak tahu siapa namanya. Aku bahkan hamper tidak ingat bagaimana wajahnya. Meski begitu aku ingin sekali bisa bertemu dengannya lagi. Banyak cara yang kutempuh, termasuk mengunjungi penyihir lautan yang ternyata sudah pensiun dan tidak membuka praktek sihirnya lagi. Aku juga sudah pernah nekad berenang ke perairan dangkal agar lebih dekat ke daratan namun tiba-tiba ombak raksasa datang menggulung dan menarikku kembali ke dasar lautan bersama dengan sejumlah besar manusia daratan, yang akhirnya kehabisan nafas di tengah laut (ooh! Aku tidak ingin mengingatnya lebih jauh lagi, sungguh tragis!)

Mengingat berbagai cara yang telah kulakukan namun tetap berujung pada kegagalan, maka aku mulai putus asa dan berniat melupakan impianku untuk tinggal di daratan sana.

Hingga suatu hari ayah memanggilku ke ruangannya dan menyampaikan sesuatu yang sangat mengejutkanku. Ternyata di daratan sana aku punya kerabat, mereka adalah ibu tiriku dan dua orang saudari tiriku, yang menurut ayahku sangat baik. Karena usia ayahku yang sudah semakin tua dan menjelang masa pensiunnya, ayahku memutuskan untuk segera turun tahta dan digantikan oleh sepupu laki-lakiku, sedangkan aku, ayahku ingin aku tetap dapat menikmati kehidupan sebagai puteri (mengingat sikapku yang agak manja). Untuk itu ayahku akan mengirimku ke daratan dan tinggal bersama keluarga tiriku itu, yang (ternyata) juga berstatus bangsawan. Wahh! Suatu kesempatan yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga, aku akan segera tinggal di darat dan dapat bertemu dengan pangeran yang waktu itu. “Senangnyaaa”

Sebelum mengirimku ke daratan sana, ayahku telah memberitahu keluarga tiriku bahwa aku akan segera datang dan tinggal bersama mereka di sana. Ayahku juga telah meminta penyihir lautan untuk menggunakan sisa-sisa kekuatannya untuk mengubah ekorku menjadi sepasang kaki. Bahkan ayahku telah mempersiapkan segala kebutuhanku di perjalanan termasuk sebuah peta menuju istana ibu tiriku itu. Lalu aku pun siap untuk berangkat. “Sampai jumpa ayah, sampai jumpa teman-temanku…”


(to be continued...)

Notestalgia...

Mirror Mirror, Snow White and The Huntsman...
Film2 dengan cerita adaptasi dari dongeng Putri Salju itu mengingatkan pada note facebook-ku beberapa tahun lalu. Waktu itu aku berniat membuat satu cerita yang merangkum semua kisah dongeng yang pernah kudapat waktu kecil dulu. Udah jadi sampai 3 bagian tapi karena malas dan lain hal, sampe sekarang ceritanya ga berkembang lagi. Dan ternyata kemunculan film2 tadi itu kembali menginspirasiku untuk melanjutkan cerita yang udah kumulai dulu.
Huff...! Butuh tekad dan nekad untuk bisa menyelesaikan cerita itu melihat tingkat kemalasanku yang di atas normal ini. Selain itu aku juga butuh dukungan moral dan materil. Dukungan moral untuk menyemangatiku, sedangkan dukungan materil untuk membantu kelangsungan hidupku supaya bisa bertahan hidup selama menyelesaikan ceritanya. :P

Hohohohohooo...

Tapi sebelum membuat bagian selanjutnya, aku akan mengentri ulang bagian-bagian yang udah ada sebelumnya, sekalian untuk mengingat kembali jalan ceritanya. Jadi cerita lanjutannya ga ngawur kemana-mana... Hahahaha...

See next entry..