Kemudian aku meneruskan perjalananku tanpa sempat beristirahat. Kejadian tadi membuatku lebih hati-hati dan tidak berniat sama sekali untuk mencari tempat penginapan lagi. Dengan kelopak mata yang berat dan langkah yang terseok-seok akibat rasa kantukku, aku kembali berjalan menyusuri hutan yang sangat gelap. Tanpa kusadari ternyata di depanku ada sebuah batu besar dan kakiku tersandung oleh batu itu. Aku pun terjatuh dan pingsan.
Matahari sudah tinggi sekali saat aku sadar dari pingsan. Rasa haus dan lapar segera menyerangku. Aku ingin mengambil bekalku tapi aku langsung teringat ternyata keranjangku ketinggalan di rumah nenek aneh itu. Ah, aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Bagaimana aku bisa sampai ke rumah ibu tiriku? Air mataku mulai menetes… mungkin sebaiknya aku pulang saja ke tempat ayah, pikirku.
Tiba-tiba hidungku menangkap aroma makanan yang sepertinya sangat lezat. Rasa laparku segera membimbing langkahku mengikuti aroma makanan itu. Semakin jauh aku melangkah, aroma makanan itu semakin kuat. Rasa laparku semakin menjadi-jadi. Aku pun mempercepat langkahku agar segera sampai ke tempat makanan itu.
Tak lama kemudian aku sudah berada di depan sebuah rumah mungil (lagi-lagi..) tapi kali ini rumahnya tampak seperti rumah normal biasa, hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil. Aroma makanan itu sepertinya berasal dari rumah itu. Pintu rumah itu terbuka lebar, kuketuk pintu itu untuk memanggil pemilik rumah. Tidak mendapat jawaban apa-apa, aku pun langsung masuk ke dalam rumah itu dan segera menuju ruang dapur. Aku harus menundukkan kepalaku agar bisa berjalan di dalam rumah itu. Aku membayangkan betapa mungilnya orang-orang yang tinggal di sana.
Ternyata di meja makan rumah itu sudah terhidang 7 mangkuk bubur dan 7 gelas susu. Semua nya dalam porsi yang mungil. Mungkin penghuni rumah ini sedang melakukan diet, pikirku. Rasa laparku semakin mendesakku untuk segera mengisi perutku. Aku pun segera menyantap makanan dan minuman yang ada di atas meja itu. Mangkuk pertama kuhabiskan, namun aku masih lapar, kuambil mangkuk kedua, ketiga, keempat, sampai akhirnya aku menghabiskan semua bubur yang ada di sana. Begitu juga dengan susunya, aku meminum habis ke tujuh gelas susu itu. Akhirnya aku bisa merasa kenyang.
Seperti biasa, sehabis makan aku langsung diserang rasa kantuk yang luar biasa. Aku pun mencari kamar tidur. Tapi alangkah terkejutnya aku melihat tujuh tempat tidur berukuran mini yang ada di dalam kamar tidur itu. Aku tidak mungkin bisa tidur di sana, badanku terlalu besar untuk ukuran tempat tidur mini itu. Aku pun merapatkan ke tujuh tempat tidur itu agar aku bisa tidur di sana. Rasanya nyaman sekali, aku pun langsung tertidur lelap.
Aku terbangun oleh suara gaduh di luar kamar. Saat aku membuka mataku di hadapanku sudah ada tujuh kurcaci yang tampak sangat marah. Aku segera melompat dari tempat tidur. Aku ingin sekali berlari ke luar rumah itu agar tidak dimarahi oleh kurcaci-kurcaci itu. Tapi kakiku tak bisa kugerakkan mulutku pun tak bisa berkata-kata. Aku sangat ketakutan dan tanpa kusadari aku menangis. Aku menangis sejadi-jadinya.
Tangisanku ternyata bisa meredakan amarah para kurcaci itu. Mereka pun segera memaafkanku dan menenangkanku. Setelah aku berhenti menangis, mereka memintaku untuk memperkenalkan diriku. Akupun menceritakan semuanya pada mereka. Setelah mereka berembuk sebentar, mereka pun mengijinkanku untuk tinggal sementara waktu di rumah mungil mereka.
Ahh.. untunglah, ternyata para kurcaci itu cukup baik hati. Mereka memperkenalkan diri mereka satu persatu kepadaku dan kami segera menjadi teman. Aku senang sekali, setidaknya aku punya tempat tinggal sekarang.
(be patient for the next part..)
Matahari sudah tinggi sekali saat aku sadar dari pingsan. Rasa haus dan lapar segera menyerangku. Aku ingin mengambil bekalku tapi aku langsung teringat ternyata keranjangku ketinggalan di rumah nenek aneh itu. Ah, aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Bagaimana aku bisa sampai ke rumah ibu tiriku? Air mataku mulai menetes… mungkin sebaiknya aku pulang saja ke tempat ayah, pikirku.
Tiba-tiba hidungku menangkap aroma makanan yang sepertinya sangat lezat. Rasa laparku segera membimbing langkahku mengikuti aroma makanan itu. Semakin jauh aku melangkah, aroma makanan itu semakin kuat. Rasa laparku semakin menjadi-jadi. Aku pun mempercepat langkahku agar segera sampai ke tempat makanan itu.
Tak lama kemudian aku sudah berada di depan sebuah rumah mungil (lagi-lagi..) tapi kali ini rumahnya tampak seperti rumah normal biasa, hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil. Aroma makanan itu sepertinya berasal dari rumah itu. Pintu rumah itu terbuka lebar, kuketuk pintu itu untuk memanggil pemilik rumah. Tidak mendapat jawaban apa-apa, aku pun langsung masuk ke dalam rumah itu dan segera menuju ruang dapur. Aku harus menundukkan kepalaku agar bisa berjalan di dalam rumah itu. Aku membayangkan betapa mungilnya orang-orang yang tinggal di sana.
Ternyata di meja makan rumah itu sudah terhidang 7 mangkuk bubur dan 7 gelas susu. Semua nya dalam porsi yang mungil. Mungkin penghuni rumah ini sedang melakukan diet, pikirku. Rasa laparku semakin mendesakku untuk segera mengisi perutku. Aku pun segera menyantap makanan dan minuman yang ada di atas meja itu. Mangkuk pertama kuhabiskan, namun aku masih lapar, kuambil mangkuk kedua, ketiga, keempat, sampai akhirnya aku menghabiskan semua bubur yang ada di sana. Begitu juga dengan susunya, aku meminum habis ke tujuh gelas susu itu. Akhirnya aku bisa merasa kenyang.
Seperti biasa, sehabis makan aku langsung diserang rasa kantuk yang luar biasa. Aku pun mencari kamar tidur. Tapi alangkah terkejutnya aku melihat tujuh tempat tidur berukuran mini yang ada di dalam kamar tidur itu. Aku tidak mungkin bisa tidur di sana, badanku terlalu besar untuk ukuran tempat tidur mini itu. Aku pun merapatkan ke tujuh tempat tidur itu agar aku bisa tidur di sana. Rasanya nyaman sekali, aku pun langsung tertidur lelap.
Aku terbangun oleh suara gaduh di luar kamar. Saat aku membuka mataku di hadapanku sudah ada tujuh kurcaci yang tampak sangat marah. Aku segera melompat dari tempat tidur. Aku ingin sekali berlari ke luar rumah itu agar tidak dimarahi oleh kurcaci-kurcaci itu. Tapi kakiku tak bisa kugerakkan mulutku pun tak bisa berkata-kata. Aku sangat ketakutan dan tanpa kusadari aku menangis. Aku menangis sejadi-jadinya.
Tangisanku ternyata bisa meredakan amarah para kurcaci itu. Mereka pun segera memaafkanku dan menenangkanku. Setelah aku berhenti menangis, mereka memintaku untuk memperkenalkan diriku. Akupun menceritakan semuanya pada mereka. Setelah mereka berembuk sebentar, mereka pun mengijinkanku untuk tinggal sementara waktu di rumah mungil mereka.
Ahh.. untunglah, ternyata para kurcaci itu cukup baik hati. Mereka memperkenalkan diri mereka satu persatu kepadaku dan kami segera menjadi teman. Aku senang sekali, setidaknya aku punya tempat tinggal sekarang.
(be patient for the next part..)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar