Kamis, 30 Juni 2011

gILa

Mereka bilang aku gila, padahal aku tidak gila, aku yakin aku bukan orang gila. Aku hanya orang yang bisa melihat gelas sebagai kolam renang, melihat hujan seperti ombak, melihat kucing sebagai panda. Aku hanya orang yang bisa mendengar suara rintihan tembok-tembok, mendengar tangisan boneka-boneka beruang di toko, mendengar amukan cermin. Aku cuma orang yang bisa memahami setiap kata yang diucapkan kelinci-kelinci di halamanku, mengerti ucapan lemari kepada meja dan kursi di sekitarnya, berbicara pada angin yang bertiup. Aku hanya orang yang bisa merasakan sakitnya ditampar oleh bayanganku sendiri, merasakan tajamnya sayatan cahaya lampu di kulitku. Hanya itu, dan hanya karena itu pula mereka mengataiku gila.

A STORY


I wrote down this story in my last year in high school. Hope you can enjoy reading it.




FIRE


“Huuuff..!!” Lana menarik napas dalam-dalam. Hanya itu tapi teman-temannya sadar kalau Lana sedang bermasalah. Baik Tris, Ika, May maupun Cece tak ada yang berani berkomentar. Demua hanya memandang Lana dengan penuh cemas.
”Lan, kamu gak pa-pa ’kan? Dari tadi melengos melulu, ceritain dong masalahmu. Seandainya pun gak bisa dibantu, paling tidak kamu ’kan bisa berbagi,” pada akhirnya Tris mulai buka suara.
”Hmm, kita ’kan lagi liburan, masa kamu bawa-bawa masalah segala ke sini. Seharusnya kamu hepi-hepi aja, gak usah terlalu dipikirin,” May ikutan ngomong. Tapi Lana tetap bungkam.
Sementara di sekitar mereka puluhan teman sekelas mereka sedang asyik menikmati hidangan barbeque yang mereka buat bersama-sama. Lana dan semua teman sekelasnya berlibur di villa milik keluarga Lana begitu selesai UAN. Semua tampak gembira kecuali Lana, cs.
”Juna memutuskan hubungan kami,” Lana berterus terang.
”APA...A?!!” seru keempat temannya.
”Katanya dia mau sekolah di Australi..., sudahlah, aku ngantuk aku tidur duluan, ya..” Lana segera beranjak dari halaman menuju kamarnya. Teman-temannya tidak bisa mencegah.
Malam sudah larut, semua orang sudah terlelap termasuk Lana, cs. Tak ada yang ingat kalau api di tempat pemanggangan barbeque belum dipadamkan. Sementara angin bertiup kencang, api yang tadinya kecil bertambah besar. Kobaran api mulai menyambar pohon cemara yang ada di dekatnya dan akhirnya merambat ke dinding villa yang terbuat dari kayu. Angin kencang membuat api cepat meluas.
”APII..II!!” tiba-tiba seseorang berteriak mengejutkan semua orang di villa itu.
”Kya..aa!! Tolong..! Kebakaran!! Kebakaran!!” orang-orang mulai berteriak-teriak sambil berusaha menyelamatkan diri masing-masing.
Tak ketinggalan Lana, cs, mereka semua panik dan berusaha keluar dari kamar mereka yang ada di lantai atas. Tapi sayang Lana terlambat keluar, api telah membakar pintu kamarnya.
”Tolong!! Aku terperangkap!!” Lana mulai ketakutan. Diperhatikannya sekelilingnya dengan cepat. ”Selimut!” pikir Lana, langsung diraihnya selimut tebal yang ada di tempat tidur dan dibawanya ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu untuk dibasahi.
”Semoga berhasil..” kata Lana sambil menyelimuti tubuh dan kepalanya dengan selimut basah. Lalu dengan sekuat tenaga dia berlari menembus api yang membakar pintu kamar villa itu. Dan berhasil! Lana berlari sambil memperhatikan jalan di hadapannya.
Sementara itu semua teman Lana  telah berhasil keluar. Mereka menangis dan berpelukan, sebagian lagi berusaha memadamkan api.
”Syukurlah kita selamat..” tangis May dalam pelukan teman-temannya.
”Lana? Dimana Lana, dimana dia?” Tris sadar Lana tak ada diantara mereka yang selamat. Yang lain mulai panik mencari-cari Lana.
”Juna kamu lihat Lana?” tanya Ika pada Juna yang sibuk membantu petugas yang baru tiba.
”Tidak! Apa dia masih di dalam? Hah?!” Juna tambah panik ketika melihat api yang hampir membakar seluruh villa.
Saat yang sama Lana sedang berjuang menyelamatkan diri. Dia terus berlari menuruni tangga yang dipenuhi api. Tiba-tiba tangga itu rubuh. Lana terjatuh ke lantai bawah yang penuh api.
“Kya...a!!!” teriaknya.
Dalam sekejap pandangan Lana menjadi gelap, tubuhnya tidak bias bergerak.
Sementara Juna juga sedang berusaha menerobos masuk ke dalam villa yang hampir habis dilalap api. Dia ingin menyelamatkan Lana.
”Lana, dimana kamu?! Bertahanlah!!!” teriaknya ditengah kobaran api.
Lana tidak dapat mendengar teriakan Juna, dia masih setengah sadar, terbaring di antara lidah-lidah api yang membara. Perlahan-lahan dia membuka matanya, dia mencoba melihat keadaan sekelilingnya. Tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menyerang kepalanya.
”Kepalaku..sakit sekalii!! Rasanya kepalaku mau pecah...”rintihnya.
Sambil memegang kepalanya, Lana berusaha untuk bangkit. Dia melihat selimut basah yang dipakainya tadi tergeletak hanya beberapa sentimeter dari kakinya, namun dia tidak memperdulikannya lagi. Dia tetap berjalan mencari jalan keluar meskipun dengan langkah sempoyongan. Dadanya terasa sesak lantaran asap yang terhirup olehnya sudah memenuhi paru-parunya. Matanya pun sudah terasa perih sekali. Namun entah kenapa Kana merasa mendapat kekuatan baru setelah pingsan tadi. Itu sebabnya dia sangat bersemangat untuk keluar dari tempat itu.
Usaha Lana tidak sia-sia, sebentar saja dia sudah berada di luar villa, tepatnya di bagian belakang villa. Setelah berhasil keluar dia mencari teman-temannya yang lain.
Sementara itu di dalam villa, Juna menemukan sesosok tubuh yang terbungkus selimut basah, tergelat persis di bawah patahan tangga. Tubuh itu tampak sudah tidak bernyawa lagi. Dengan hati-hati Juna menggotong tubuh tak bernyawa itu keluar dari kobaran api.
Begitu berada di luar kembali, teman-teman Lana langsung menyerbunya. Mereka ingin tahu siapa yang sedang digotong Juna.
Sementara itu Lana yang telah menemukan teman-temannya segera berlari sambil memanggil nama mereka satu persatu. Namun tak seorang pun yang memperdulikannya, teman-temannya tampak sangat shock begitu mengetahui siapa yang telah digotong Juna tadi.
Mereka semua bertangisan, semua tampak begitu sedih sampai membuat Lana penasaran. Kemudian dia pun segera melihat sosok tubuh yang sudah tak bernyawa itu.
Matanya langsung terbelalak lebar setelah melihat tubuh itu. Dia bahkan jauh lebih shock setelah mengetahui bahwa itu adalah dirinya sendiri. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kemudian dia memperhatikan teman-teman di sekitarnya.
”Tris.. ini aku. Aku masih hidup, aku belum mati Tris. Tris jawab aku!!!” teriaknya pada Tris yang berdiri tepat di hadapannya. Tris tidak memperdulikan teriakan Lana. Tris terus saja menangis Lana pun beralih kepada Ika dan Cece.
”Ika! Cece! Ini aku. Ini Lana.. Heyy! Ada apa dengan kalian, aku masih hidup!!” Lana berusaha berbicara dengan mereka namun mereka pun tetap tidak memperdulikannya. Begitu juga dengan May yang menangis di samping Tris.
Lana tidak putus asa, dia berusaha menggapai tubuh Juna yang berguncang akibat tangisnya yang tersedu. Namun tidak berhasil, tangan Lana justru menembus tubuh Juna. Lana tidak bisa menyentuh tubuh siapa pun yang ada di situ. Bahkan tubuhnya sendiri.
”Tidaak!! Aku tidak mau mati, aku masih ingin hidup.. Aku masih ingin hidu...upp!” seru Lana dengan suara nyaring. Namun tidak seorang pun yang dapat mendengarnya.

Rabu, 22 Juni 2011

HOW COULD AN ANGEL BREAK MY HEART

I heard he sang a lullaby
I heard he sang it from his heart
When I found out thought I would die
Because that lullaby was mine
I heard he sealed it with a kiss
He gently kissed her cherry lips
I found that so hard to believe
Because his kiss belonged to me

How could an angel break my heart
Why didn't he catch my falling star
I wish I didn't wish so hard
May be I wished our love apart
How could an angel break my heart

I heard her face was white as rain
Soft as a rose that blooms in May
He keeps her picture in a frame
And when he sleeps he calls her name
( From: http://www.elyrics.net/read/t/toni-braxton-lyrics/how-could-an-angel-break-my-heart-lyrics.html )
I wonder if she makes him smile
The way he used to smile at me
I hope she doesn't make him laugh
Because his laugh belongs to me

How could an angel break my heart
Why didn't he catch may falling star
I wish i didn't wish so hard
Maybe I wish our love apart
How could an angel break my heart

Oh my soul is dying, it's crying
I'm trying to understand
Please help me

How could an angel break my heart
Why didn't he catch my falling star
I wish I didn't wish so hard
Maybe I wished our love apart
How could an angel break my heart

Senin, 20 Juni 2011

Daddy's silent demand

One afternoon, my father and I watched the news on television. in silence, we both watched the news about the marriage that is being aired at that time. Not the marriage of the royal family such as Prince William and Kate recently but the marriage between couples of different nationality. It is not regular partners, they come from two countries in war. The bride is a citizen of Israel and the groom are citizens of Palestine.
Before the wedding begins, the bride and groom were walking from their countries and meet the country's borders. yes, their wedding ceremony held in the border region between the two countries. When the bride and groom met at the altar, the atmosphere was very touching, the guests appear to tears.
That's the news about the wedding was over and we watched without giving any comment. But when I moved from the front of the television all of a sudden my dad said "definitely very proud if I could have a daughter like that".

Until now I never comment on his words but in my heart the words that seemed to be a demand for me.