Sabtu, 25 Mei 2013

Tragedi Tanda Tanya

Di suatu Senin pagi yang agak berbeda dari biasanya, aku bangun lebih siang padahal harus berangkat ngantor dari Bekasi. Dengan persiapan kurang dari setengah jam aku berangkat terburu-buru meskipun sebenarnya sia-sia karena jalanan sudah penuh. Setidaknya aku sudah berusaha untuk tidak terlambat. Jam setengah sembilan akan ada rapat dan aku yang jadi penanggung jawabnya. Sementara jam setengah tujuh pagi aku masih terjebak macet beberapa puluh kilometer dari kantorku.
Bersama dengan para penumpang dan pengguna jalan lainnya, aku berkali-kali memanjatkan doa agar tidak terlambat sampe di kantor. Sesekali aku mengumpat kesal pada pemotor dan supir bus lain yang berusaha mengahalangi jalan.
Jam setengah 7.30 tiba-tiba sebuah pesan masuk ke hapeku. Dari salah seorang teman sekantorku.

"Mba, pakbos sudah datang..?"

Bah! Dia bertanya padaku yg masih harap-harap cemas di tengah kemacetan. Dengan kesal aku segera menjawab.

"Mana saya tau. Saya masih terjebak macet ini di Kalibata"

Akhirnya 45 menit kemudian aku sampe di kantor dan langsung berlari menuju ruang rapat untuk menyiapkan ruangan. Tapi, olala... ruangan sudah disiapkan, Pakbos dan si mba yg tadi ngirim sms juga sudah bersiap di depan laptopnya. Pakbos menatapku dengan sadis.
"Kamu pikir ini jam berapa? Baru datang sekarang!!!"

"Maaf, pak. Terjebak macet"

"Kapan sih Jakarta gak macet?!"

Yeah, saya diamuk pakbos dan merasa terkhianati oleh si mba itu.

"Kok ga ngasih tau kalo bapak udah datang???" Cecarku pada si mba begitu rapat selesai.

"Lha... tadi kan sudah saya sms.."

"He?? Apaan? Tadi bukannya kamu nanya, pakbos udah datang ato belom?"

"Ih, bukanlah. Itu kan aku udah di kantor tadi, trus ngasih tau mba kalo pakbos udah sampe kantor"

"Kalo ngasih tau jangan pake tanda tanya doooongg!! Ah! Gimana sih..."

"Ya maap. Biasa jg gitu kok."

"Biasa di kampungmu!!" *sewot*

Selasa, 21 Mei 2013

Pejalan Kaki

Sepulang kerja tadi, aku hampir tertabrak mobil dua kali. Sama sekali bukan salahku karena aku sudah berjalan di pinggir sebelah kiri jalan (sayang, tidak ada trotoarnya) tapi justru aku yang dimarahi.
Pertama, di persimpangan, sebuah mobil pribadi yang tanpa membunyikan klakson tiba-tiba muncul dari kanan belakangku, hendak berbelok ke kiri. Kalau aku tidak menoleh mungkin aku sudah tertabrak karena mobil itu tidak melambat sama sekali. Aku terkejut dan langsung mundur. Si pengemudi di dalamnya membuka kaca dan menatapku dengan jengkel. Arogan sekali. Apa salahku?
Kedua, hanya beberapa langkah dari persimpangan itu sebuah taksi juga nyaris menabrakku, bahkan sempat menyerempet kantong belanjaanku. Taksi itu juga sama sekali tidak membunyikan klakson. Bahkan setelah itupun dia langsung berlalu begitu saja, tanpa meminta maaf.
Ya Tuhan, apakah para pengendara mobil itu berpikir aku punya kaca spion di tubuhku atau jangkauan penglihatan 360°? Apakah mereka berpikir mereka punya hak lebih dari pejalan kaki? Hanya karena mengendarai mobil lantas mereka bisa arogan, berkendara sesuka hati? Seingatku aturan menggunakan jalan adalah mendahulukan pejalan kaki.
Yah, apa boleh buat kalau pemerintah juga tidak memihak pada pejalan kaki. Bisa dilihat dari minimnya trotoar, jembatan penyeberangan, zebra cross, dll. Trotoar yang sudah ada pun dikuasai oleh pengendara motor. Bahkan mereka bertingkah lebih menyebalkan lagi ketika mereka memarahi pejalan kaki di trotoar yang tidak memberi jalan pada mereka atau menghalangi mereka.
Sebenarnya dari kecil ada satu pertanyaan yang membuatku kesal, kenapa pejalan kaki harus berjalan di sebelah kiri jalan sehingga kendaraan akan melintas dari arah belakang kita. Kita'kan tidak punya mata di belakang kepala untuk melihat kendaraan yang bergerak ke arah kita. Apakah aturan berjalan di sebelah kiri ini berlaku di semua negara? Bagaimana dengan negara yang punya aturan kendaraan berjalan di sebelah kanan jalan? Apakah aturannya memang pejalan kaki dan kendaraan berjalan searah? Kenapa begitu?

Jumat, 17 Mei 2013

Terinspirasi Percakapan Tadi Malam

A : anak ibu yg plg gede umur brapa? Udah nikah?

B : 27 tahun. Blom nikah dia. Ayo cariin dong, ada ga untuk dicalonin? Kristin brapa? Ah, tapi kamu mah udah punya pacar, ya?

I : sama, buk. Aku juga 27. Hehehehehe... ga buk.

B : masa???

I : iya, bu. Belum punya.

A : anak ibuk cewek/cowok, buk?

B : cewek..

A : udah kerja dong?

B : udah.

A : dulu kuliah dimana?

B : psikologi, univ. Esa Unggul.

I : wah! Saya juga buk, lulusan psikologi, S1. Bisa sama gitu, ya..?

A : wah, jangan2 kristin itu anak ibuk yang hilang?!!!

B :  o__O anak siapa yang hilang????

I : -____-'  Haisss!! Udah buk, abaikan aja dia...

Sabtu, 11 Mei 2013

Ada Apa antara Musik dan Persamaan Reaksi?

Sembilan tahun yang lalu, di pertengahan Mei seperti sekarang ini, aku mulai kegiatan bergadang rutinku setiap malam. Ngapain? Hohohoo... belajar untuk persiapan SPMB, bahasa berat ya padahal sih cuma ngerjain model soal, itupun yang dikerjain cuma soal2 tertentu yang kira2 bisa dijawab. Kalo ada yang bisa menemukan buku kumpulan model soalku, bisa keliatanlah kalo sebenarnya yang kukerjain itu cuma soal MM, Kimia dan B.Inggris. Selain itu cuma diliat-liat aja, dicolek-colek dikitlah. Hahahahah!!! Apalagi Fisika, ampe ga kliatan soal-soalnya karena ketutupan coret-coretan untuk ngerjain soal Kimia yang ada di sebelahnya.

Aku bukan manusia malam tapi waktu itu adekku yang paling kecil masih berumur 2 tahun dan lagi senang-senangnya sama alat tulis. Jadi kalo aku buka bukunya pagi-sore bukannya belajar malah bakal kejar-kejaran sama si nyong-nyong itu, rebutan buku dan pensil. Bukannya dia ga punya buku dan pensil sendiri tapi dia lebih tertarik sama apapun yang kupake. Mo gimana lagi, aku adalah role modelnya. Apa-apa dia selalu maunya "Kayak kakak!", "Kayak punya kakak". Oh, actually I love that  time. Kalo sekarang sih, "nanti jadi sama kayak kakak, gak mau!", "Kakak jangan ikut-ikutan, ntar sama!".

Eh, jadi melantur kemana-mana. Jadi itu, aku bisa belajar dengan tenang mulai jam 11 malam - 5 pagi. Ya, itu, adekku si nyong-nyong yang kala itu masih 2 tahun baru tidur jam 11 malam. (Nah, nyong-nyong lagi, nyong-nyong lagi). Biasanya aku bergadang ditemani radio tape di ruang tamu (kalo di kamar aku ga bisa tahan sama godaan bantal dan guling). Kan, di atas jam 12 biasanya udah ga ada tuh suara2 penyiar radio yang cukup mengganggu itu (btw, kenapa suara penyiar itu mirip-mirip, ya? Bicaranya mendesah dan centil-centil ga jelas..), jadi yang ada cuma lagu-lagu yang diputar nonstop. Kalo tengah malam juga jarang ada lagu-lagu yang cadas semacam heavy metal, dll. Yah, kebanyakan adalah lagu-lagu yang berirama lembut dan easy listening. Mungkin karena terlalu fokus sama soal-soalku, aku jadi ga terlalu menyimak lirik-lirik lagu yang diputar tapi kebanyakan lagu bisa kuingat nadanya. Jadilah tiap kali aku mendengar lagu-lagu itu diputar, aku cuma bisa humming-humming aja. Tapi ga fals lho, yaa.. hoho..

Akhir-akhir ini eh bukan, setelah beberapa tahun kuliah barulah aku tau beberapa judul lagu yang sering kudengar itu... Beberapa yang paling kusuka dan tiap kudengar kapanpun, dimanapun, aku selalu teringat sama soal-soal turunan trigonometri dan persamaan reaksi asam-basa, adalah Yellow - Coldplay, Cruisin' - Gwyneth Paltrow and Huey Lewis, Perfect - Simple Plan dan The Best I Ever Had - Vertical Horizon.

Dan kenapa pagi-pagi aku mendadak menulis tentang ini adalah karena aku terbangun dengan lagu Cruisin' di earphone yang masih menempel di kupingku. Ya, pas terbangun tadi pun aku langsung terbayang persamaan reaksi : HCl + NaOH —> NaCl + H2O

Hehee... Happy Sunday, bloggers.

SuLung

Menjadi anak tertua itu berat, ya, tanggung jawab moralnya besar. Dalam segala hal harus bisa memberi contoh yang baik, menjadi pendukung dalam setiap kondisi, jadi penengah, jadi penentu, jadi tameng, jadi kambing hitam. Yah, gak heran banyak anak sulung yang muncul menjadi pemimpin. Meski bukan berarti semua anak sulung akan menjadi pemimpin. 
Sebagai anak sulung, sepertinya aku menetapkan standar yang cukup tinggi sehingga aku sering merasa gagal saat adek-adekku tidak bisa menjadi seperti yang aku harapkan. Aku sering mempertanyakan apakah contoh yang kutunjukkan salah? Apakah aku kurang memperhatikan adek-adekku? Apa yang harus kulakukan? Apa yang belum kuberikan? Apa aku harus mendikte mereka? 
Apakah aku salah waktu mendukung keputusan mereka? Aku selalu menyalahkan diri saat mereka gagal. Waktu masih kecil aku sering marah setiap kali harus mengalah pada adek-adekku, "kalo mengalah terus, aku kapan menangnya?". Aku kesal setiap kali diingatkan peran dan tanggung jawabku sebagai si sulung. 
Tapi semakin bertambah usia, tanggung jawab sebagai anak sulung itu semakin mendarah daging. Bukan hanya di tengah keluarga, di antara teman-teman pun aku sering mengambil peran sebagai anak sulung, tanpa sadar memperlakukan teman-teman sebaya sebagai adek. Sampai di tempat kerja pun aku sering berperan sebagai anak sulung. Padahal sudah jelas aku yang paling muda di subbagianku. 
Kapan ya aku berhenti dari peran anak sulung ini?

Jumat, 10 Mei 2013

My Little Sister


You know my little sister? Yes, my youngest sister, Corin. I think she's a great little comedian or just a little rascal? You may decide it your self after read our story below:
It's one week before her final exam and I thought I had to remind her that she would have final test in the next day. I'm serious that it was neccesary because she's so forgetful and never pay attention to any announcement given by her teacher. She's so careless!! I'm sure it may happen that she would come to school without notice that they'll have final test that day. Gee, that brat!
So, here's some of our conversation on the phone:
Me: Woi! Besok kalian UN kan?
Corin: nggak!! Minggu depannya UN!!
Me: ha??? Serius? Nanti salah lagi, kau datang ke sekolah santai-santai sementara temanmu semua udah dengan peralatan perang (ujian)..
Corin: ya, ampun! Kakak ini ga percaya kali!!!
Me: iya, mengingat dulu kau sering datang ke sekolah padahal libur! Huh! Dasar kau ga pernah dengarin pengumuman.
Corin: issh! Itu kan dulu..
Me: jadi betul UN nya minggu depan?
Mom voice: iya-iya. Kmrn udah kutanya sama kepala sekolahnya.
Me: oh, ya udah. Tp Corin udah belajar kan?
Corin: udah. Tapi kmrn pas try out, masa ada bbrp pertanyaan yg belom kami pelajari..
Me: hoo... biasa itu, krn yg bikin soal kan dari pusat jd sesuai kurikulum SD yg ditetapkan kementerian, mungkin aja ada beberapa yg ga kalian pelajari di sekolah.
Corin: jd gimana kalo aku gak bisa jawab?
Me: pokoknya kerjakan aja dulu yang bisa kau jawab. Yang ga tau dikerjain belakangan, tebak aja jawabannya. Pokoknya jangan ada yg kosong.
Corin: tapi kata ibuk ga usah dikerjain.
Me: emang ada pengurangan nilai kalo jawabannya salah?
Corin: enggak ada.
Me: ya udah, isi aja semua. Siapa tau tebakanmu benar, mengandalkan keberuntungan.
Kecuali kalo kayak di SPMB, kan ada pengurangan 1 kalo jawaban salah. Kalo di UN kan ga ada pengurangan.
Corin: oh, jd kalo SPMB itu ada pengurangannya ya? Berarti kalo ga tau jawabannya jgn dikerjain dong.
Me: iya betul!
Corin: terus, nanti itu kami UN ato SPMB?
Me: *chewing my cellphone*
Another call a day before the final test:
Me: besok UN kan? Persiapannya udah?
Corin: pensil, papan ujian, penghapus, kartu ujian, seragam, rautan, pulpen, semuanya udah! Apalagi?
Me: udah belajar?
Corin: udah.
Me: besok ujian apa?
Corin: gak tau...
Me: haiyaahh!!! Jadi belajar apa tadi? Masa ga tau besok ujian apa? Masa ga ada jadwal ujiannya? Ngapain aja sih di sekolah?!!
Corin: ga ada dikasih tau ibuk.
Me: ga mungkin!!! Pasti ga dengarin pengumuman lagi. Aarrrgh!! Trus gimana persiapan belajarmu? Haduuuhh...
Corin: tenang ajalah.. udah kupelajari semuanya.. tapi ada satu yg aku ga tau.
Me: apa itu?
Corin: soal2 lingkaran, misalnya soalnya... bla.. bla... bla..
Me: oh, itu gini cara ngerjainnya... bla.. bla.. bla.. (discussing math on the phone)
Corin: oiya.. iya.. udah ngerti.
Me: baguslah, sekarang tidurlah, biar ga telat bangun..
Corin: iya, udah dulu yaa... daaaah...
The next day, I saw my nephew who was having a same final test with Corin writing a status in her fb:
"UN B.Indo nya bikin sakit kepala. Mamaaaa....."
Ha?! So they have Indonesian test that day not math.
Hope everything's going good with Corin.