Sabtu, 11 Mei 2013

SuLung

Menjadi anak tertua itu berat, ya, tanggung jawab moralnya besar. Dalam segala hal harus bisa memberi contoh yang baik, menjadi pendukung dalam setiap kondisi, jadi penengah, jadi penentu, jadi tameng, jadi kambing hitam. Yah, gak heran banyak anak sulung yang muncul menjadi pemimpin. Meski bukan berarti semua anak sulung akan menjadi pemimpin. 
Sebagai anak sulung, sepertinya aku menetapkan standar yang cukup tinggi sehingga aku sering merasa gagal saat adek-adekku tidak bisa menjadi seperti yang aku harapkan. Aku sering mempertanyakan apakah contoh yang kutunjukkan salah? Apakah aku kurang memperhatikan adek-adekku? Apa yang harus kulakukan? Apa yang belum kuberikan? Apa aku harus mendikte mereka? 
Apakah aku salah waktu mendukung keputusan mereka? Aku selalu menyalahkan diri saat mereka gagal. Waktu masih kecil aku sering marah setiap kali harus mengalah pada adek-adekku, "kalo mengalah terus, aku kapan menangnya?". Aku kesal setiap kali diingatkan peran dan tanggung jawabku sebagai si sulung. 
Tapi semakin bertambah usia, tanggung jawab sebagai anak sulung itu semakin mendarah daging. Bukan hanya di tengah keluarga, di antara teman-teman pun aku sering mengambil peran sebagai anak sulung, tanpa sadar memperlakukan teman-teman sebaya sebagai adek. Sampai di tempat kerja pun aku sering berperan sebagai anak sulung. Padahal sudah jelas aku yang paling muda di subbagianku. 
Kapan ya aku berhenti dari peran anak sulung ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar