Selasa, 18 Maret 2014

It's The Wedding

Waktu aku menikah nanti, aku ingin semuanya serba sederhana dan diusahakan hemat biaya. Tidak perlu ada event organizer, semua acara akan disusun olehku bersama dengan keluarga dan teman-temanku yang bisa diandalkan. Tidak akan menyewa gedung mewah, mungkin cukup dengan meminjam rumah salah satu opungku di Medan yang punya halaman berumput yang luas. Hidangannya dimasak sendiri oleh emak, tante, sepupu dan sahabat-sahabatku yang berminat membantu dan punya bakat masak tentunya. Undangan hanya dari kalangan orang-orang terdekat, kalau kamu merasa dekat denganku tapi ternyata nanti tidak diundang, mohon jangan sakit hati mungkin sesuatu telah terjadi sehingga hubungan kita tidak ‘terlalu dekat’. Baju pengantin, yah kalau untuk yang satu ini gak apalah mengeluarkan sedikit biaya, sepotong gaun putih yang cantik dan sederhana untukku dan tuxedo putih untuk pengantin prianya. Sebenarnya aku mau ada bridesmaids dan best man, untuk seragamnya disuruh jahit sendiri aja atau pake dresscode. Hand bouquetnya minta dari kebun percobaan punya kantorku. Hahaha...
Tema pestanya adalah garden party, berhubung tamu yang diundang gak banyak maka ga perlu banyak kursi, cukup keluarga aja yang duduk, tamu lainnya berdiri aja ya (jangan coba-coba bawa tikar atau kursi lipat sendiri, nanti gak cukup tempatnya). Untuk tempat pemberkatannya pake gazebo yang dibuat sendiri, minta bantuan adekku si insinyur sipil dong. Gazebonya dicat putih dan dihias dengan bunga-bunga punya opung, ada anggrek berbagai jenis yang bisa digantung di tiang-tiang gazebo. Aku sendiri yang akan menghias gazebo dan altarnya. Dekorasi kebun diserahkan pada sepupu dan temanku yang kutau akan menyukai bagian itu (Halo, seksi dekorasi, siap-siap ya...).
Bukan karena penghematan tapi penghormatan, jadi pendeta yang akan memimpin acara pemberkatan adalah saudaraku sendiri. Musik pengiring akan dimainkan oleh sepupuku yang pintar bermain gitar dan piano. Paduan suara mungkin gak perlulah, tapi kalau memaksa, sepupu-sepupuku cukup bisa diandalkan. Fotografer? Aku gak akan menyia-nyiakan bakat terpendam keponakanku yang juga calon arsitek itu. MC acara? Haruskah? Tapi ada kok sahabatku yang amat sangat berbakat dan cocok untuk posisi itu.
Tibalah kita pada hari H yang sudah ditunggu-tunggu, hari Habtu ato Hinggu ato Humat tergantung kesepakatanlah. Tentunya aku menginginkan suatu hari yang cerah dan sedikit berangin (kalau kebanyakan kan gak baik, nanti bisa kembung). Ternyata oh ternyata, berhubung aku harus bekerja keras sehari sebelum pernikahanku itu, aku bangun kesiangan! Cuaca cerah yang kuharapkan digantikan oleh hujan rintik-rintik.
“Nop! Nop! Nopaaaaaa!!!! Gak nikahnya kau?! Bangun!” begitu kira-kira suara emak ato adek ato siapapun yang membangunkanku. “Tengoklah dulu di luar, udah turun hujan. Gimanalah acaranya nanti? Pengantinnya juga belum bangun jam segini.”
Bukan kata “Nikah” yang akan membangunkanku tapi berita hujan turun yang akan serta merta membuatku terduduk dan langsung lari ke halaman. Berusaha menyelamatkan apapun yang bisa diselamatkan dari hujan itu. Tapi lihat, karpet yang akan kulalui untuk menuju altar udah basah kuyup. Kursi-kursi yang semalaman dicat putih juga sudah penuh cipratan lumpur di kaki-kakinya, begitu juga dengan gazebonya. Hiks.. Pengantin kecewa, ups, calon pengantin.
Emak, adek dan sodara-sodara mungkin terpana mengamatiku dari teras rumah. Sementara calon suami sudah tiba bersama dengan keluarganya. Dari mobil dia melepas tuxedonya, menaungiku dan menuntunku kembali ke rumah. Dengan cuaca yang seperti itu, acara pernikahannya ditunda sampai hujannya berhenti dan segalanya dirapikan kembali.
“Kalau mau, kita bisa melakukan pemberkatannya di dalam rumah saja,” pasti saudaraku yang pendeta itu akan berkata begitu untuk memberikan solusi. Semua orang selain aku sudah pasti akan mengangguk setuju.
“Nggak, aku maunya pemberkatannya di kebun itu, semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Hari ini pasti akan cerah. Kita tunggu aja..” dan aku akan menjawab begitu karena sangat menginginkan acara pesta kebun itu.
Kemudian emak dan sepupu-sepupuku akan menarikku ke kamar, menyuruhku bersiap-siap. Pengantin macam apa, bangun kesiangan dan terlihat berantakan di depan calon suaminya. Sambil mandi dan berhias, aku bersyukur dengan cuaca yang mendadak hujan pagi itu. Hehehe...
Akhirnya, cuaca mulai membaik tepat tak lama setelah jam makan siang. Tempat acara pun sudah mulai dirapikan kembali. Segera acara pemberkatannya akan dimulai. Pengantin prianya sudah menunggu di depan altar. Keluarga dan undangan lain sudah bersiap di tempat mereka masing-masing. Wedding march sudah dimainkan oleh sepupuku dengan gitarnya. Akupun memasuki tempat pemberkatan dengan diantarkan oleh adekku. Berhubung adekku itu hatinya sangat lembut dan romantis, dia akan mengantarku dengan penuh haru dan mata yang berkaca-kaca. Bahkan sampai di depan altar mungkin dia sudah mulai sesenggukan. Sedangkan aku, aku harus menggigit bibirku supaya tidak tertawa atau senyumku terlalu lebar. Bahagia berlebihan. Suara wedding march yang dimainkan oleh sepupuku pasti akan membuatku semakin tidak bisa menahan senyum. Apalagi sepupuku memainkannya sambil melirik-lirik menggoda (dia adalah salah satu orang yang paling menunggu pernikahan ini).
Sampai di depan altar, aku terpaksa menyikut adek yang mengantarku karena dia benar-benar sesenggukan. “Lebay, woy!” Aku akan membisikinya begitu. Adek-adekku yang lain pun pasti melihatnya dengan tampang “Oh, please..! Lebay, deh!” Tapi kemudian aku segera bersanding dengan calon suamiku. Aku pasti akan mencuri-curi pandang ke arahnya karena dia terlihat begitu menawan dengan tuxedonya, dan jantungku berdetak terlalu keras. Aku sampai malu dan pipiku jadi tambah merona. Ouww... (pas pertama melihatnya di pagi hari, aku belum menyadari penampilannya karena terlalu panik).
“Apa liat-liat?” calon suamiku itu mungkin akan berbisik seperti itu dan mulutku berubah jadi sedikit monyong tapi dengan begitu aku jadi bisa fokus mengikuti sesi pemberkatan. Hehehe...
Syukurlah, pemberkatan pernikahannya berjalan dengan lancar, janjii nikah diucapkan dengan tegas dan penuh keyakinan. Cincin pernikahan tersemat dengan manis di jari kami masing-masing.
“You may kiss the bride” saudaraku, sang pendeta, yang memang tinggal lama di luar sana mungkin akan berkata begitu dan buket di tanganku kulempar ke arah si adek bungsu untuk mengalihkan perhatiannya dari kami. Dia masih belum cukup umur untuk melihat adegan itu. Hohohoo...



Voila! It’s my wedding gonna be..