Waktu aku menikah nanti, aku
ingin semuanya serba sederhana dan diusahakan hemat biaya. Tidak perlu ada event organizer, semua acara akan
disusun olehku bersama dengan keluarga dan teman-temanku yang bisa diandalkan.
Tidak akan menyewa gedung mewah, mungkin cukup dengan meminjam rumah salah satu
opungku di Medan yang punya halaman berumput yang luas. Hidangannya dimasak
sendiri oleh emak, tante, sepupu dan sahabat-sahabatku yang berminat membantu
dan punya bakat masak tentunya. Undangan hanya dari kalangan orang-orang
terdekat, kalau kamu merasa dekat denganku tapi ternyata nanti tidak diundang,
mohon jangan sakit hati mungkin sesuatu telah terjadi sehingga hubungan kita
tidak ‘terlalu dekat’. Baju pengantin, yah kalau untuk yang satu ini gak apalah
mengeluarkan sedikit biaya, sepotong gaun putih yang cantik dan sederhana
untukku dan tuxedo putih untuk pengantin prianya. Sebenarnya aku mau ada
bridesmaids dan best man, untuk seragamnya disuruh jahit sendiri aja atau pake
dresscode. Hand bouquetnya minta dari kebun percobaan punya kantorku. Hahaha...
Tema pestanya adalah garden
party, berhubung tamu yang diundang gak banyak maka ga perlu banyak kursi, cukup
keluarga aja yang duduk, tamu lainnya berdiri aja ya (jangan coba-coba bawa
tikar atau kursi lipat sendiri, nanti gak cukup tempatnya). Untuk tempat pemberkatannya
pake gazebo yang dibuat sendiri, minta bantuan adekku si insinyur sipil dong. Gazebonya
dicat putih dan dihias dengan bunga-bunga punya opung, ada anggrek berbagai
jenis yang bisa digantung di tiang-tiang gazebo. Aku sendiri yang akan menghias
gazebo dan altarnya. Dekorasi kebun diserahkan pada sepupu dan temanku yang
kutau akan menyukai bagian itu (Halo, seksi dekorasi, siap-siap ya...).
Bukan karena penghematan tapi
penghormatan, jadi pendeta yang akan memimpin acara pemberkatan adalah
saudaraku sendiri. Musik pengiring akan dimainkan oleh sepupuku yang pintar
bermain gitar dan piano. Paduan suara mungkin gak perlulah, tapi kalau memaksa,
sepupu-sepupuku cukup bisa diandalkan. Fotografer? Aku gak akan menyia-nyiakan
bakat terpendam keponakanku yang juga calon arsitek itu. MC acara? Haruskah? Tapi
ada kok sahabatku yang amat sangat berbakat dan cocok untuk posisi itu.
Tibalah kita pada hari H yang
sudah ditunggu-tunggu, hari Habtu ato Hinggu ato Humat tergantung kesepakatanlah.
Tentunya aku menginginkan suatu hari yang cerah dan sedikit berangin (kalau
kebanyakan kan gak baik, nanti bisa kembung). Ternyata oh ternyata, berhubung
aku harus bekerja keras sehari sebelum pernikahanku itu, aku bangun kesiangan! Cuaca
cerah yang kuharapkan digantikan oleh hujan rintik-rintik.
“Nop! Nop! Nopaaaaaa!!!! Gak
nikahnya kau?! Bangun!” begitu kira-kira suara emak ato adek ato siapapun yang
membangunkanku. “Tengoklah dulu di luar, udah turun hujan. Gimanalah acaranya
nanti? Pengantinnya juga belum bangun jam segini.”
Bukan kata “Nikah” yang akan
membangunkanku tapi berita hujan turun yang akan serta merta membuatku terduduk
dan langsung lari ke halaman. Berusaha menyelamatkan apapun yang bisa
diselamatkan dari hujan itu. Tapi lihat, karpet yang akan kulalui untuk menuju
altar udah basah kuyup. Kursi-kursi yang semalaman dicat putih juga sudah penuh
cipratan lumpur di kaki-kakinya, begitu juga dengan gazebonya. Hiks.. Pengantin
kecewa, ups, calon pengantin.
Emak, adek dan sodara-sodara
mungkin terpana mengamatiku dari teras rumah. Sementara calon suami sudah tiba
bersama dengan keluarganya. Dari mobil dia melepas tuxedonya, menaungiku dan
menuntunku kembali ke rumah. Dengan cuaca yang seperti itu, acara pernikahannya
ditunda sampai hujannya berhenti dan segalanya dirapikan kembali.
“Kalau mau, kita bisa melakukan
pemberkatannya di dalam rumah saja,” pasti saudaraku yang pendeta itu akan
berkata begitu untuk memberikan solusi. Semua orang selain aku sudah pasti akan
mengangguk setuju.
“Nggak, aku maunya pemberkatannya
di kebun itu, semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Hari ini pasti akan
cerah. Kita tunggu aja..” dan aku akan menjawab begitu karena sangat
menginginkan acara pesta kebun itu.
Kemudian emak dan sepupu-sepupuku
akan menarikku ke kamar, menyuruhku bersiap-siap. Pengantin macam apa, bangun
kesiangan dan terlihat berantakan di depan calon suaminya. Sambil mandi dan berhias,
aku bersyukur dengan cuaca yang mendadak hujan pagi itu. Hehehe...
Akhirnya, cuaca mulai membaik
tepat tak lama setelah jam makan siang. Tempat acara pun sudah mulai dirapikan
kembali. Segera acara pemberkatannya akan dimulai. Pengantin prianya sudah
menunggu di depan altar. Keluarga dan undangan lain sudah bersiap di tempat
mereka masing-masing. Wedding march sudah dimainkan oleh sepupuku dengan
gitarnya. Akupun memasuki tempat pemberkatan dengan diantarkan oleh adekku. Berhubung
adekku itu hatinya sangat lembut dan romantis, dia akan mengantarku dengan
penuh haru dan mata yang berkaca-kaca. Bahkan sampai di depan altar mungkin dia
sudah mulai sesenggukan. Sedangkan aku, aku harus menggigit bibirku supaya
tidak tertawa atau senyumku terlalu lebar. Bahagia berlebihan. Suara wedding
march yang dimainkan oleh sepupuku pasti akan membuatku semakin tidak bisa
menahan senyum. Apalagi sepupuku memainkannya sambil melirik-lirik menggoda
(dia adalah salah satu orang yang paling menunggu pernikahan ini).
Sampai di depan altar, aku
terpaksa menyikut adek yang mengantarku karena dia benar-benar sesenggukan. “Lebay,
woy!” Aku akan membisikinya begitu. Adek-adekku yang lain pun pasti melihatnya
dengan tampang “Oh, please..! Lebay, deh!” Tapi kemudian aku segera bersanding
dengan calon suamiku. Aku pasti akan mencuri-curi pandang ke arahnya karena dia
terlihat begitu menawan dengan tuxedonya, dan jantungku berdetak terlalu keras.
Aku sampai malu dan pipiku jadi tambah merona. Ouww... (pas pertama melihatnya di
pagi hari, aku belum menyadari penampilannya karena terlalu panik).
“Apa liat-liat?” calon suamiku
itu mungkin akan berbisik seperti itu dan mulutku berubah jadi sedikit monyong
tapi dengan begitu aku jadi bisa fokus mengikuti sesi pemberkatan. Hehehe...
Syukurlah, pemberkatan pernikahannya
berjalan dengan lancar, janjii nikah diucapkan dengan tegas dan penuh keyakinan.
Cincin pernikahan tersemat dengan manis di jari kami masing-masing.
“You may kiss the bride”
saudaraku, sang pendeta, yang memang tinggal lama di luar sana mungkin akan
berkata begitu dan buket di tanganku kulempar ke arah si adek bungsu untuk
mengalihkan perhatiannya dari kami. Dia masih belum cukup umur untuk melihat
adegan itu. Hohohoo...
Voila! It’s my wedding gonna be..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar