Rabu, 06 Juni 2012

The Other Tale (part-1)

Hai, aku seorang putri, ayahku adalah seorang penguasa lautan yang tentunya tinggal di dasar laut. Aku punya banyak sekali teman yang terdiri dari berbagai jenis ikan dan peghuni laut lainnya. Meski aku putri penguasa laut, aku punya impian untuk tinggal di darat bersama pangeran impianku.

Dulu aku pernah menyelamatkan seorang pangeran daratan tapi aku tidak tahu siapa namanya. Aku bahkan hamper tidak ingat bagaimana wajahnya. Meski begitu aku ingin sekali bisa bertemu dengannya lagi. Banyak cara yang kutempuh, termasuk mengunjungi penyihir lautan yang ternyata sudah pensiun dan tidak membuka praktek sihirnya lagi. Aku juga sudah pernah nekad berenang ke perairan dangkal agar lebih dekat ke daratan namun tiba-tiba ombak raksasa datang menggulung dan menarikku kembali ke dasar lautan bersama dengan sejumlah besar manusia daratan, yang akhirnya kehabisan nafas di tengah laut (ooh! Aku tidak ingin mengingatnya lebih jauh lagi, sungguh tragis!)

Mengingat berbagai cara yang telah kulakukan namun tetap berujung pada kegagalan, maka aku mulai putus asa dan berniat melupakan impianku untuk tinggal di daratan sana.

Hingga suatu hari ayah memanggilku ke ruangannya dan menyampaikan sesuatu yang sangat mengejutkanku. Ternyata di daratan sana aku punya kerabat, mereka adalah ibu tiriku dan dua orang saudari tiriku, yang menurut ayahku sangat baik. Karena usia ayahku yang sudah semakin tua dan menjelang masa pensiunnya, ayahku memutuskan untuk segera turun tahta dan digantikan oleh sepupu laki-lakiku, sedangkan aku, ayahku ingin aku tetap dapat menikmati kehidupan sebagai puteri (mengingat sikapku yang agak manja). Untuk itu ayahku akan mengirimku ke daratan dan tinggal bersama keluarga tiriku itu, yang (ternyata) juga berstatus bangsawan. Wahh! Suatu kesempatan yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga, aku akan segera tinggal di darat dan dapat bertemu dengan pangeran yang waktu itu. “Senangnyaaa”

Sebelum mengirimku ke daratan sana, ayahku telah memberitahu keluarga tiriku bahwa aku akan segera datang dan tinggal bersama mereka di sana. Ayahku juga telah meminta penyihir lautan untuk menggunakan sisa-sisa kekuatannya untuk mengubah ekorku menjadi sepasang kaki. Bahkan ayahku telah mempersiapkan segala kebutuhanku di perjalanan termasuk sebuah peta menuju istana ibu tiriku itu. Lalu aku pun siap untuk berangkat. “Sampai jumpa ayah, sampai jumpa teman-temanku…”


(to be continued...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar