Rabu, 06 Juni 2012

The Other Tale (part 2)

Aku memulai perjalananku yang pertama di daratan ini. Aku sengaja memilih gaun yang pendek agar aku bisa melangkah dengan bebas. Tak lupa aku juga mengenakan jubah merah kesayanganku (baru kali ini aku bisa memakainya) dan membawa keranjang yang berisi bekal makanan, pakaian dan barang-barang lain yang sudah dipersiapkan ayah untukku.


Ughh! Ternyata perjalanan di darat sangat berat, harus mendaki gunung, lewati lembah serta menyeberangi sungai yang mengalir indah ke samudera. Ahh… sangat melelahkan maka aku pun memutuskan untuk istrahat sejenak. Tapi setelah kuperhatikan ternyata aku sedang berada di tengah hutan dan matahari sudah mulai tenggelam. Aku mulai merasa tidak aman, apalagi mendengar suara-suara yang aneh yang ntah dari mana asalnya. Perasaanku semakin kalut ketika aku mendengar ada suara langkah yang mendekat. Tanpa pikir panjang aku langsung lari sekuat tenaga, menembus pepohonan dan tanpa kusadari peta yang kusimpan di saku jubahku terjatuh dan terbang entah kemana.

Setelah berlari cukup jauh, aku merasa aman dan memutuskan untuk mencari tempat penginapan terdekat agar aku benar-benar bisa beristirahat. Tapi yang kudapati hanyalah sebuah rumah mungil dengan lampu dan perapian yang masih menyala. Rumah itu tampak seperti rumah mainan yang lucu yang terbuat dari roti dan gula-gula kesukaan anak kecil. Hmmm.. rasanya pasti manis sekali, sayang aku kurang suka makanan yang terlalu manis.

Aku pun mengetuk pintu rumah itu dan seorang nenek yang terlihat sedikit aneh muncul dibalik pintu. Nenek itu memiliki hidung yang cukup panjang dan senyumnya agak menyeringai, membuatku sedikit takut. Namun wajah penyihir latutan jauh lebih menyeramkan jadi aku sudah terbiasa melihat wajah seperti itu. Ternyata meski berwajah agak menyeramkan, nenek itu sungguh baik, dia mengijinkanku tinggal semalam di rumahnya. Aku senang sekali dan segera menuju kamarku untuk beristirahat, seperti yang disarankan nenek itu kepadaku. Malam ini aku beristirahat dengan nyaman…

Oh-oh.. ternyata tidak, sebelum mataku terpejam aku mendengar ada suara keributan di luar kamarku. Rasa penasaranku membuat lelah dan kantukku hilang, aku segera keluar kamar, mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Ternyata… aku menemukan dua orang nenek yang sama di ruang duduk. Ahh! Bukan tapi mereka agak mirip hanya saja satu berhidung panjang seperti serigala dan yang satunya berhidung besar dan mancung, persis paruh burung hantu. Sepertinya mereka berdua sedang bertengkar memperebutkan sesuatu yang akan menjadi bahan masakan mereka. Dan..dan...sepertinya itu adalah aku!!!

Aaaahhhh!!! Tidaaaakk!! Bagaimana ini?? Aku harus pergi dari sini..! Tapi kemana? Bagaimana aku keluar dari sini?!

Tiba-tiba aku teringat, semoga rumah ini benar-benar terbuat dari roti dan gula-gula.. Aku pun mulai memakani dinding kamarku yang ternyata memang terbuat dari batangan cokelat. Untung rasanya tidak terlalu manis. Ughh! Kalo ayah tahu aku telah memakan cokelat sebanyak ini, dia pasti akan marah besar… Maafkanlah aku ayah, ini demi keselamatan nyawaku.

Akhirnya aku berhasil melarikan diri dari kedua nenek aneh itu sebelum mereka menyadarinya. Horeee..!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar